Dedi Mulyadi ” Orang Bogor tidak Pantas makan beras Raskin”

INFODESA54 Dilihat

Bogor, infodesanew.com- Lagu-lagu sunda berkumandang mendayu-dayu menghibur masyarakat yang datang memenuhi GOR Jasinga Kabupaten Bogor dalam rangka menunggu kedatangan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Masyarakat yang sudah hadir dari siang kelihatan mulai gelisah menunggu kedatangan salah satu kandidat balon gubernur Jawa Barat yang belum kunjung datang juga. Satu persatu para pengisi acara dan tamu undangan menyumbangkan acara turut pakaulan dalam acara anjang Kanyaah seraya mengalihkan perhatian masyarakat kepada kesenian sunda untuk mengusir rasa bosan dan jenuh menunggu kedatangan Kang Dedi.

Paguyuban Seniman dan Budayawan Kabupaten Bogor di bawah pimpinan Kasepuhan Abah Jana tak ketinggalan mencoba mencairkan suasana yang mulai memanas karena ruangan yang suhunya mulai naik dengan mengajak para undangan menari mengiringi nyanyian yang dibawakan oleh salah satu penyanyi di bawah pimpinan Nenden Banurdiyah.

Acara Silaturahmi yang di gelar oleh Sahabat sejati Dedi Mulyadi di wilayah Jasinga Kabupaten Bogor dan Sekitarnya dihadiri oleh para tokoh masyarakat, budayawan, para pemuda dan masyarakat bertempat di GOR Jasinga Kabupaten Bogor wilayah Barat hari minggu tanggal 1 /10/2017.

Acara silaturahmi dengan tema “Anjang Kanyaah Neundeun Kadeudeuh” ala Kang Dedi mengundang banyak perhatian masyarakat terbukti dari undangan yang datang ke tempat pertemuan.

Kang Dedi dalam acara anjang kanyaah ini mengemas konseptual pemikiran kesejahteraan masyarakat Jawa Barat dengan cara yang sangat sederhana sehingga merebut atensi para undangan.

 

Dedi Mulyadi mengajak seorang undangan yang hadir untuk berbincang-bincang dengannya di depan Forum.

 

Muslim salah satu warga Banyuresmi Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor yang diajak berbincang oleh Kang Dedi, dengan keluguannya menjawab pertanyaan Dedi Mulyadi seputar Kehidupan keluarganya dengan nada yang polos sehingga sering kali mengundang gelak tawa hadirin.

 

Dari perbincangan antara Dedi Mulyadi dengan Muslim, ada beberapa konsep pemikiran yang sebenarnya sedang disampaikan Dedi secara tidak langsung.

Konsep tatanan kemandirian masyarakat Jawa Barat yang seharusnya menjadi cara hidup masyarakat sunda termasuk dalam kemandirian berekonomi.

“Masyarakat Jawa Barat itu harus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri karena tanah Jawa Barat itu tanah yang paling subur, Sehingga sudah selayaknya masyarakat Jawa Barat hidup subur makmur,” jelas Dedi Mulyadi.

Kosep lain yang di tanamkan Dedi dalam acara temu silaturahmi adalah jawa Barat harus memiliki pemimpin yang bisa bergandengan dengan masyarakatnya. Dimana pemimpin dan masyarakat sama-sama menciptakan kondisi masyarakat yang silih asah, silih asih dan silih asuh.

“ Rakyatna daekan pamimpinna rapekan. Pamimpin anu murah bacot murah congcot,” kata Dedi.

Dalam perbincangannya juga Dedi menanamkan bahwa masyarakat Bogor tidak layak mengkonsumsi beras raskin karena tanah Bogor tanah yang subur sehingga seharusnya masyarakat Bogor mengkonsumsi beras terbaik.

Dedi juga melontarkan pola tatanan ekonomi keluarga yang mandiri di mulai dari mencoba mencukupi kebutuhan keluarga sendiri. Dimana semua anggota keluarga saling bahu-membahu memenuhi kebutuhannya.

“Bapakna kaluar ti imah nyiar rejeki, pamajikanana di imah nyieun kue bari ngurus kaluarga. Embe na di buruan, hayamna endogan, kulahna laukan. Hayang sayur tinggal metik. Moal aya deui paribasa Sareukseuk panon pondok lengkah hutang raweuy dimana-mana,” tutur Dedi menyampaikan konseptual tatanan ekonomi masyarakat yang akan dia bangun kelak dengan cara yang luar biasa sederhana. ( Ry)