Dugaan Korupsi Proyek Breakwater Pasca Tsunami Di Lamsel

INFODESA53 Dilihat

LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS –Berbagai kejanggalan hingga menciptakan dugaan penyimpangan pada Pengerjaan proyek strategis nasional Breakwater atau tanggul pnahan ombak di sepanjang pesisir pantai kalianda lampung selatan

Pasca bencana tsunami beberapa tahun lalu itu ,kini beberapa penyimpangnya telah terhendus oleh lembaga sosial masyaraktat dan dampaknya mulai dirasakan warga penerima manfaat di desa setempat.

Beberapa temuan hasil investigasi oleh salah satu lembaga ormas ini terindikasi sejak lelang tender tahun lalu ,Para rekanan berlomba untuk dapat mengerjakan proyek raksasa dengan nilai hingga ratusan milyar rupiah guna bangun tanggul penangkis ombak pasca bencana tsunami diwilayah sepanjang pesisir pantai kalianda yang disinyalir kontraktor berkonspirasi dengan pihak terkait karena kedapatan mengurangi matrial dan volume.

Namun tak ada tindakan dari Balai Besar Sungai Mesuji Sekampung sebagai pengawasan, meski penyimpang ada di depan mata.Senin (18/9/2023)

Hal tersebut dikatakan oleh tokoh ormas setempat Zul Kenedy Zainudin, “dengan hasil pekerjaan yang terjadi beberapa penyimpangan seperti yang jelas merugikan negara ini namun pihak Balai Besar tetap lakukan PHO di bulan desember 2022, padahal hasil pekerjaan sungguh tak sesuai, alias jauh dari gambar atau RAB yang tidak sesuai petunjuk teknis kerja dari kementrian pekerjaan umum pusat,

Dalam hal ini kami telah melaporkan berbagai temuan itu, tapi pihak Balai Besar seolah olah tutup mata, hingga kedapatan ada kontraktor yang penerjaan masih tengah berjalan di ujung waktu pada bulan desember lalu, itu pun tetap PHO.

Proyek strategis nasional dengan dana bantuan hingga ratusan milyar rupiah ini diduga kuat hanya menjadi ajang memperkaya diri sendiri oleh pihak pihak tertentu melalui lintas kordinasi untuk mendulang mengurangi anggaran dari pemerintah pusat dengan cara melanggar RAB.

Atas berbagai dugaan tersebut/ sebagai tokoh masyarakat Abah Ami yang merasa sangat khawatir karena keluarganya jadi korban tsunami pada waktu itu, menyampaikan rasa kekecewaanya atas hasil pengerjaan tanggul penangkis ombak di Desa way muli, pasalnya dampak dari buruknya hasil atau mutu bangun proyek breakwater ini.

Kedepan masyarakat juga yang menjadi korban, sebagai tokoh masyarakat , Abah Ami menuturkan , pernah akan didemo oleh warga namun beliau dan beberapa perwakilan sempat datangi PU Balai Besar, namun hasil nya nol, hingga kini pihak terkait tak melakukan apapun atas jawaban dari rasa kehawatiran kami si penerima manfaat atau warga pesisir pantai kalianda lampung selatan.

Di istilahkan pula oleh Abah Ami’ dalam pengerjaan proyek di pesisir pantai Desa way muli ini, ” gunung ditebang laut di bendung, ” matrial dengan batu yang tak sesuai ukuran di pasang oleh rekaban hanya satu trap saja, padahal setau saya pada RAB harus dua trap , ini jelas menyalahi didalam petunjuk pasangan batu bolder, apa lagi batu yang di gunakan adalah batu ukuran kecil dan bukan disebut batu bolder.

Apapun yang terjadi pada pembangunan penangkis ombak disepanjang pesisir pantai kalianda ini dikatakan ketua ORMAS FORMALIS Ainul Fajri pada awak media, semua berawal dari lemahnya pengawasan pihak Balai besar sungai mesuji sekampung atau diduga telah terjadi konspirasi dengan rekanan ,pasalnya ketika di hubungi via phonsel terkait RAB yang tak sesuai dengan hasil kerja rekanan sesungguhnya, oleh penanggung jawab PT SACna Endang tentang temuan yang tak sesuai dengan hasil kerja di lokasi pesisir pantai kunjir,namun hingga kini proyek jalan terus dan seolah olah tak tersentuh hukum.

Sedangkan Ainul sebagai warga / juga si penerima manfaat memahami RAB yang ada dan tak sesuai dengan buruknya kwaliatas pembangunan tanggul penangkis ombak saat ini / begitu pula sejak pembangunan proyek sebelumnya di tahun lalu, sangat jelas pihak balai besar sungai mesuji sekampung telah lakukan PHO pada beberapa titik pekerjaan yang diduga belum selesai karena mendekati masa habis kontrak kerja bulan Desember tahun 2022 lalu.

Meski berbagai informasi yang di peroleh dari tokoh masyarakat setempat ,Lembaga sosial masyarakat ,hingga warga sekitar pembangunan proyek , namun ironinya untuk menguwak tabir adanya tindakan yang merugikan Negara bernilai puluhan milyar rupiah ini, pihak balai sampai kini tak pernah lakukan tindakan apapun kecuali melancarkan PHO dan terkesan tutup mata juga tak peduli dengan berbagai informasi terkait berbagai ke tak sesuaian yang dilakukan para rekanan meski nyata hasil pekerjaan di depan mata dan bisa dilihat secara kasat mata pula untuk ditinjau secara bersama dalam hal pembuktian apakah Masyarakatkah dan lembaga yang meng ada ada atau kontraktor dan pihak tertentu berkonspirasi untuk meraup uang negara guna memperkaya diri.

Setelah way muli timur , Kondisi buruk kembali terjadi tepatnya di Desa Kunjir Kecamatan Raja basa , disini kedapatan pemasangan matrial batu bolder yang seharusnya berukuran besar / namun oleh pihak rekanan PT. SACna disusun batu kecil, hal ini jelas telah mengurangi kwalitas/ volume juga harga dan terpenting ketahanan bangunan jadi tak berkwalitas seperti pada RAB yang ada.

Di bebeber kan oleh Ainul Fajri / batu bolder yang harusnya dua sap atau dua susun pada RAB/ tapi didapati pemasanganya hanya satu susun saja/ diduga untuk mengelabui pengawas/ matrial tersebut dengan cepat ditutup dengan Filter geo textil.

Berbagai keluhan warga juga lembaga masyarakat diwilayah ini , terkait buruknya kinerja rekanan pelaksana proyek, terkesan hanya diabaikan begitu saja, meskipun perwakilan warga serta ormas telah mengirim surat ke kementrian yang ditembuskan Kebalai besar sungai mesuji sekampung bandarlampung/ namun pihak pelaksana PT. SAC Nusantara yang diduga itu, tidak juga bergeming tetap lakukan pengerjaan tanpa ada tindakan pihak terkait, alias kebal hukum.

Diabaikan tanpa tindakan, juga tanpa sanksi, bahkan tanpa perbaikan dari yang tidak Sesuai seperti dalam RAB oleh Balai besar sungai mesuji sekampung ini, diduga semakin menguatkan adanya penyimpangan dalam proyek strategis negara pada objek pembangunan penangkis ombak atau breakwater di sepanjang pesisir pantai kalianda lampung selatan pasca tsunami.(Tim/Ronald)