Mbah Marlan Banser Pati; Sebuah Manifesto Untuk Pemuda Millenial

NASIONAL73 Dilihat

PATI, Infodesanews.com – Beberapa hari yang lalu saya dan seorang kawan (bukan mawar), Muhsan namanya. Ya, Seorang perwira menengah Banser NU Satkoryon Pucakwangi yang sering saya kisahkan dalam beberapa cerita. Kami berdua glesotan sambil nyeruput kopi dan menghisap rokok buatan pabrik Gudang Garam di emperan Kantor MWC NU Pucakwangi. Membincangkan soal bagaimana seharusnya Gerakan Pemuda Ansor ini dikelola, seputar memaksimalkan segala potensi sosial, spiritual dan intelektual di Pucakwangi. Lalu tentang term “Pemuda” dari nama Gerakan Pemuda Ansor, begitu mudah diucapkan, dibanggakan tapi mengandung responsibilitas yang cukup membuat pundak menjadi ngilu jika membayangkan apa yang telah dialami oleh para pemuda pelajar dari seluruh penjuru Nusantara untuk mengikat sumpah pada tahun 1928 silam.

Kebetulan dalam percakapan santai tersebut, kami tak sengaja ngrasani seorang Banser sepuh asal Desa Terteg yang kami jadikan panutan selama ini, Mbah Sumarlan namanya. Jangan berprasangka buruk dulu. Dalam rasan-rasan itu, betapa kami memuji Mbah Marlan sebagai The Man From A Thousand, hanya ada satu dari seribu, dalam kesatuan Banser aktif satkoryon kami yang tak ada seratus bahkan. Bagi kami Mbah Marlan bagaikan top model saat ini, dengan segenap keuletan, militansi, loyalitas dan segala bentuk kepatuhan beliau terhadap komando diusianya yang kami perkirakan lebih dari 60 tahun itu.

Dalam usia yang normalnya orang kampung adalah waktu untuk menikmati masa tua dengan menyibukkan diri diantara cucu-cucu, ngimami langgar, merawat tanaman atau bekerja menjadi juru dekorasi hajatan harusnya cukup membuatnya sibuk. Tapi kenyataannya kok tidak demikian, Mbah Marlan sebisa mungkin selalu hadir dalam tiap kali ada instruksi dinas kebanseran tak peduli hujan, ataupun sengat panas matahari dengan semangat yang memancar dari air mukanya. Kami (saya dan Muhsan) kagum, iri sekaligus malu. Tentu saja malu, malu sebagai anak muda yang seringkali bertingkah sok pintar, sok keren dan gemagus setelah memakai PDL lengkap kemudian petentang-petenteng dihadapan khalayak ramai saat ngepam. Jika dibandingkan, kami tak lebih mirip bayi jika dibandingkan dengan khidmah Mbah Marlan di kesatuan yang sudah lebih dari 20 tahun.

Paradoks yang berusaha saya ceritakan adalah otokritik, betapa njomplang kualitas khidmah antara generasi hari ini dengan yang dicontohkan Mbah Marlan. Ia sosok yang tak berharap apa-apa dari organisasi selain ngalap berkah, nunut karomah-nya NU. Pembawaannya tenang, ramah, kalem, pribadi khas tani tun. Keikhlasan mengabdi terlihat dari trengginasnya ia ketika harus bersepeda motor menempuh jarak belasan kilometer, menerabas hutan dan jalan rusak menuju lokasi kegiatan pengamanan. Berbeda dengan generasi ini, apalagi kalau sudah soal rebutan peluang posisi dan jabatan, GP Ansor dikelola seperti cara mengelola Partai Politik saja. Bikin kelompok, geng, atau faksi-faksi yang bermaksud terlihat heroik dengan mengatasnamakan organisasi untuk membela kepentingan masing-masing. Luntur nilai keikhlasan, koyak jahitan persatuan, lalu GP Ansor hanya terlihat seperti organisasi kerdil yang berjalan atas fondasi kasak-kusuk dan hora-hore belaka. Tentu saja termasuk saya dan Muhsan yang berisik ini, tergolong miskin gagasan, rapat jarang datang, atau datang-pun sekedar duduk ngerumpi masalah-masalah remeh lalu pulang. Sejauh saya tahu, Mbah Marlan jarang bicara atau berkomentar jika tidak benar-benar penting menurutnya. Berbeda jauh dengan saya dan Muhsan, yang banyak bicara tak ada isinya, apalagi tindakan, yang penting terlihat pintar dulu, berbuatnya kapan-kapan kalau ingat, kalau luang.

Mbah Marlan adalah manifesto hidup dari apa itu Nawa Prasetya Banser, menyelamatkan kami dari krisis senior panutan. Benar-benar sangat jauh perbedaannya dari kami semua yang selama ini membanggakan diri sebagai generasi penerus. Generasi yang hidup di peradaban serba canggih, teknologi yang maju namun cara berpikirnya sangat tertinggal.

Kenyataan itu harus ditelan suka atau tidak, karena saya percaya, Gerakan Pemuda Ansor dan korps pasukannya, Banser, masih berfungsi sebagai madrasah untuk memberikan pengalaman, pendidikan tambahan sekaligus masalah-masalah yang harus diselesaikan secara langsung dengan segenap sumber daya yang dimiliki. Baik sumberdaya tersebut berupa sosial, spiritual sekaligus intelektual. Entah bagaimanapun caranya, harus ada yang memastikan ketika aspek tersebut berjalan secara seimbang, untuk menghasilkan generasi penerus Nadhatul Ulama di masa depan yang mampu menjawab tantangan perubahan yang tak kenal batas dan kompromi.

Generasi Mbah Marlan dan generasi ini jelas memiliki tugas yang berbeda, karena mengahadapi problem yang tak sama. Generasi ini menghadapi problem-problem millenial, yang sangat materialistik. Yang menuntut inovasi berpikir, produktifitas, tindakan kongkret dan gagasan-gagasan baru untuk ikut serta membentengi Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyyah juga menjaga NKRI dengan meneruskan cita-cita kemerdekaan yang belum juga tercapai dengan baik sampai saat ini. Mbah Marlan sudah pernah muda, dan saat ini siapapun yang merasa muda, sampean ataupun saya tak ada beda, ayo berkhidmah sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!

Kontributor : akhwan