Senin, 28 September 2026
TERKINI
• Bukan Sekadar Administrasi, Inspektorat Awasi Program Pemkab Lamsel hingga Manfaat ke Masyarakat (1 jam yang lalu) • Peringati Hari Jadi Tenggarong, Dandim 0906/Kkr Bersama Forkopimda Ziarah Makam Raja-Raja (3 jam yang lalu) • Dandim 0906/Kkr Hadiri Acara Puncak Prosesi Penutupan Erau (3 jam yang lalu) • Antusias Warga Ramaikan Turnamen Orado Dalam Rangka HUT TNI Yang Digelar Kodim 0906/Kkr (3 jam yang lalu) • Kodim 0721/Blora Gelar Ziarah Nasional dan Tabur Bunga Peringati HUT ke-81 TNI (5 jam yang lalu) • Dari Buku hingga Tali Kasih, Dwi Riyanto Isi Pengajian RISMA dengan Pesan Kehidupan (10 jam yang lalu) • Semarakkan HUT ke-81 TNI, Open Turnamen Domino Orado 101 Piala Panglima TNI Resmi Dibuka di Provinsi Lampung. (19 jam yang lalu) • Lindu Aji Kunduran Bersama Dua Anggota DPRD Blora dari PKB Gelar Dropping Air Bersih (19 jam yang lalu) • LSM Harimau Blora Siap Ikut Aksi Moral di MNC Tower Jakarta (1 hari yang lalu) • Wujud Kepedulian Rakyat, Danrem 091/ASN Buka Bazar HUT Ke-81 TNI di Kodim 0901/Smd (2 hari yang lalu)
INFODESA 12 September 2023, 15:21 WIB 1,039 PDF

Debu Woongsol Ancam Kesehatan Warga, Wakil Ketua I DPRD dan DLH Akan Turun Ke Lokasi

Admin Utama
Oleh: admin • ~4 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Debu Woongsol Ancam Kesehatan Warga, Wakil Ketua I DPRD dan DLH Akan Turun Ke Lokasi
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / admin

LAMPUNG SELATAN, INFODESNEWS — Warga Dusun Katibung Desa Sukabanjar Kecamatan Sidomulyo terus dihantui Polusi dampak dari aktivitas produksi PT. Woongsol Nature Indonesia.

Polusi yang dihasilkan perusahaan penanaman modal asing yang bergerak dalam bidang produksi dan ekspor komoditi agricultural raw material itu terus mengancam kesehatan warga.

Diketahui konflik antara perusahaan dengan warga menyangkut persoalan yang sama sudah di mediasi berulang-ulang namun tanpa solusi yang konkrit.

Aksi massa juga pernah dilakukan warga di depan perusahaan serabut kelapa asal Korea itu. Musababnya banyak warga yang menderita ispa dan gatal-galat selama berbulan-bulan.

Beberapa tuntutan sudah disampaikan warga tatkala direksi perusahaan menemui perwakilan warga yang melancarkan protes. Namun, tuntutan tersebut hingga kini belum dipenuhi.

“Tuntutan warga waktu itu, hentikan debu dan polusi bagaimanapun caranya. Kami nggak mau konpensasi, yang kami ingingkan hanyalah perusahaan setop sementara karena debunya menyebabkan anak-anak dan lansia menderita gangguan pernapasan serta gatal-gatal,” kata Tokoh Masyarakat Dusun Katibung, Ahmad Lutfi kepada infodesanews.com, Selasa (12/9/2023)

Dalam pernyataannya, Pendiri Ponpes Raudhatul Aulia, mendesak agar Woongsol meredam polusi.

Menurutnya sejak tahun 2018/2019 beroperasi besar besaran perusahaan tersebut kesehatan warga terus terancam.

“Kalau nggak bisa kurangi produksi, maka redam polusinya, pakai blower atau apapun namanya. Kalau masih nggak bisa juga kami minta perusahaan itu berhenti sementara atau ditutup saja,” tegasnya.

Jarak yang begitu dekat dengan PT. Woongsol menyebabkan 80an Kepala Keluarga di Dusun Katibung menderita. Buktinya dalam sekali menyapu rumah, warga disana menghimpun debu yang mencapai satu aqua gelas.

“Pagi, siang dan malam debu nggak berhenti. Apalagi saat ini musim kemarau. Tadinya kami mendesak perusahaan melakukan penyeriaman rutin supaya menekan penyebaran debu. Namun tidak dilakukan juga, malah kata orang prusahaan mereka menambah mesin produksi,” jelasnya.

Sementara itu salah seorang, warga yang anaknya menderita gangguan pernapasan sejak dua bulan belakangan akibat dampak debu yang sebabkan perusahaan mengaku, anaknya sudah bolak-balik periksa ke dokter namun belum sembuh juga.

“Sudah ke dokter spesialis kata dokter anak saya mengidap gangguan pernapasan. Kalau terus-terusan begini, bahayanya bagi kesehatan kami. Harusnya perusahaan memikirkan dampak buruk terhadap warga, bukan hanya memikirkan keuntungan semata,” kata Imam,

Emosi warga disana sudah memuncak, Pemerintah Desa Sukabanjar bahkan sudah pasrah dengan hal ini. Sebab kejadiannya terus berulang-ulang tanpa ada penanganan serius baik dari Perusahaan maupun Pemerintah Daerah.

Warga memang tidak mengancam secara eksplisit atas dampak buruk tersebut. Namun ketika keluhan ini kembali digantungkan tanpa solusi, bukan tidak mungkin menyulut konflik yang lebih besar, sebesar kobaran api yang kerap melahap serabut kelapa di PT. Woongsol.

Menanggapi hal tersebut Wakil Ketua I DPRD Lampung Selatan Agus Sartono langsung beraksi turun langsung untuk menemui warga dan akan turun ke PT. Woongsol bersama dengan Organisasi Perangkat Daerah DLH dan Dinkes Lamsel.

“Ini sudah terjadi berulang-ulang, persoalannya sama. Warga khawatir dampak jangka panjang terhadap kesehatan mereka. Maka besok kami turun bersama OPD ke PT. Woongsol supaya ada jalan keluar,” kata legislatif dari Fraksi PAN itu.

Legislatif asal Sidomulyo itu mengharapkan warga sementara untuk menahan emosinya. Itu dilakukan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

“Sementara tahan emosi dan amarah, jangan bertindak gegabah. Besok baru akan kita ketahui apakah ada jalan keluar atau tidak,” terangnya.

Saat dihubungi via telepon, HRD PT. Woongsol Nature Indonesia Oktovie Herousa mengatakan kalau dirinya sudah beberapa hari tidak ngantor lantaran kerap berseberangan dengan menejemen perusahaan.

Ovie begitu Oktovie biasa disapa menjelaskan sebetulnya kejadian seperti ini sudah berulang-ulang setiap tahun. Namun kondisi kemarau yang terjadi menyebabkan debu beterbangan dan tak mampu dibendung perusahaan.

“Bahkan ketika sudah disiram, dibendung oleh waring pun sama saja. Tetap kebobolan juga, mestinya perusahaan menjadikan ini sebagai pelajaran supaya kedepan tidak terus begini,” kata Ovie yang mengaku menonaktifkan diri selama beberapa hari belakangan.

Dari pengakuannya, Ovie merupakan penyambung lidah antara warga dengan menejemen perusahaan yang para petingginya berkebangsaan Korea. Beberapa kebijakan perusahaan kata Ovie sebagian sudah mengakomodir keinginan warga.

“Sebagian sudah diakomodir keinginan warga seperti penyiraman rutin. Tetapi memang kemarau dan angin kencang tak mampu membendung,” kata Ovie.

Dari nada bicaranya, Ovie tampak pasrah dengan konflik yang terjadi antar warga dan PT. Woongsol. Dia mengaku sudah tidak cocok dengan menejemen dan pasrah dengan keputusan atau tindakan yang bakal dilakukan warga disana.

“Kalau saya sudah berupaya menyampaikan, dalam bulan ini saja sudah tiga kali mediasi warga dengan menejemen. Persoalannya memang berkelindan, mau pasang waring supaya membendung debu tapi terbentur dengan aturan PLN yang nggak boleh mendirikan bangunan tinggi dekat sutet. Jadi masalah lagi kan,” tandasnya. (Red)

Oleh: admin

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Admin Utama
Jurnalis Terverifikasi Administrator Utama

Admin Utama

Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab Portal Berita INFODESANEWS.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
3 + 6 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi