Jumat, 25 September 2026
TERKINI
• Perkuat Kelembagaan dan Kolaborasi, PWI Sulsel Silaturahmi ke Bank Mandiri (20 menit yang lalu) • Dua Bulan Hampir Berlalu, RDP Limbah PT Ciomas Belum Terwujud, Ada Apa? (14 jam yang lalu) • Geothermal Rajabasa Ditolak Masyarakat, DPRD Siap Teruskan Aspirasi hingga ke Pemerintah Berwenang (21 jam yang lalu) • Bupati Banyumas Dukung GreenMu, Dorong Pengelolaan Sampah Bernilai Ekonomi (1 hari yang lalu) • Ilusa Berbagi, Salurkan 148 Tangki Air Bersih untuk Warga Blora (1 hari yang lalu) • Kejari Lampung Timur Periksa Sejumlah Pihak: Pengusutan Dugaan Korupsi Proyek Sapi Dinas Perikanan dan Peternakan (1 hari yang lalu) • Kuasa Hukum Korban Pertanyakan Dasar Tuntutan 9 Tahun terhadap Ansori dalam Kasus Fajar Aries Saputra (1 hari yang lalu) • DPRD Lamsel Gelar RDP Gabungan Komisi DPRD Lamsel Bahas Rencana Geothermal Gunung Rajabasa (1 hari yang lalu) • Bupati Egi: Pesantren Membentuk Generasi Muda di Tengah Pesatnya Tekhnologi dan Arus Informasi (2 hari yang lalu) • Bupati Egi: Pesantren Membentuk Generasi Muda di Tengah Pesatnya Tekhnologi dan Arus Informasi (2 hari yang lalu)
INFODESA 12 Maret 2022, 13:10 WIB 1,804 kali dibaca ~3 mnt baca Bukti Tayang (PDF)

Hari ini, Tarian Sakral Bedhaya Anglir Mendhung Iringi Jumenengan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunagoro X

Penulis: admin
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Hari ini, Tarian Sakral Bedhaya Anglir Mendhung Iringi Jumenengan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunagoro X
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / admin

SOLO, INFODESANEWS | Hari ini, Pura Mangkunegaran melaksanakan kegiatan akbar, yakni Jumenengan Dalem (upacara naik tahta) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X di Pendapa Pura Mangkunegaran. Sebuah tari sakral pun digelar yaitu Bedhaya Anglir Mendhung.

Tari Bedhaya Anglir Mendhung, merupakan sebuah tarian yang mengisahkan tentang pertempuran Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said saat melawan penjajah Belanda pada tahun 1752 di Ponorogo.

Wedono Satriyo Pura Mangkunegaran, Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Lilik Priarso Tirtodiningrat mengatakan, Tari Bedhaya Anglir Mendhung, hanya dimainkan pada saat upacara peringatan kenaikan tahta atau Tingalalan Jumenengan KGPAA Mangkunegara. “Untuk Tari Bedhaya Anglir Mendhung ini durasinya sekitar 50 menit,“ katanya.

Lilik menambahkan, pada jumenengan kali ini, panitia juga mengundang Gubernur Jawa Tengah, Wali Kota Solo serta tokoh-tokoh di sekitar Solo. Kemudian 3 kerajaan penerus dinasti Mataram Islam. Yakni Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman.

Diketahui, Tari Bedhaya Anglir Mendhung ini termasuk ke dalam tari gaya Mangkunegaran yang memiliki perpaduan antara tari gaya Yogyakarta dengan gaya Surakarta. Keterangan tersebut mengutip dari Buku Reksa Pustaka Mangkunegaran, dengan judul Anglir Mendhung Monumen Perjuangan Mangkunegara I.

Berdasarkan buku tersebut, tari ini sudah ada sejak zaman Mangkunegara I yang mana sejak zaman Mangkunegara II hingga VII tarian ini tidak pernah dipentaskan kembali. Hingga pada tahun 1981, tarian ini kembali dipentaskan.

Menurut keterangan dalam buku Anglir Mendhung Monumen Perjuangan Mangkunegara I, Babad Mangkunegaran, Sastronaryatmo, tarian ini diciptakan oleh Mangkunegara I Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa. Saat pembuatan tari tersebut, Mangkunegara I dibantu oleh dua orang penata gendhing yaitu Kyai Gunasuta dan Kyai Kidungwulung.

Tarian Anglir Mendhung berasal dari kata anglir atau lir yang artinya seperti atau serupa. Sedangkan mendhung berarti awan. Sehingga Anglir Mendhung dapat diartikan sesuatu yang menyerupai awan. Pada dasarnya tari ini menggambarkan bagaimana suasana peperangan di Desa Ksatriyan, Ponorogo.

Tari Bedhaya Anglir Mendhung dianggap keramat dan dilestarikan hingga saat ini dan hanya dipentaskan dalam upacara tertentu. Tari ini dilakukan oleh tujuh orang penari wanita dengan keistimewaan pesinden dan penabuh gamelannya juga wanita. Penaripun harus masih gadis.

Tidak sembarang orang

Tarian sakral ini ditujukan untuk raja yang berkuasa. Mereka yang menarikan tarian ini tidak bisa sembarangan orang, selain itu jumlahnya juga harus ganjil. Para penari tersebut juga harus masih gadis atau belum menikah dan memiliki anak. Harus lajang kalau sudah berkeluarga tidak boleh. Jadi kita regenerasi terua karena ada batas usia maksimal, batas usia maksimal 30 tahun.

Selain syarat tersebut, para penari itu juga harus menjalani karantina untuk melaksanakan ritual khusus. Untuk standar penari Bedhaya Anglir Mendung adalah penari senior tetapi masih lajang dam belum berkeluarga.

Bedhaya Anglir Mendung adalah tarian  sepanjang 45 menit tersebut merupakan tarian level tertinggi di Mangkunegaran. Karena lamanya tarian,maka dibutuhkan  fisik yang prima untuk dapat mempertahankan koreografi, olah tubuh dalam penampilan.

Mendung ini  hanya dimiliki oleh Mangkunegaran. Tarian ini paling tidak dipentaskan minimal setahun sekali pada saat ulang tahun naik tahta. Bedhaya Anglir Mendung adalah karya Mangkunegara (MN) I atau Pangeran Randen Mas Said Sambernyawa kisah perjuangan sebelum menjadi Mangkunegara I.Yang sampai saat ini masih dijaga, tarian ini tidak boleh keluar dari Pura Mangkunegaran dan hanya boleh ditarikan di istana Pura Mangkunegaran. (*/red)

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Iklan Penulis & Sponsor Space Iklan Disewakan - Hubungi Redaksi

Rekomendasi Shopee Pilihan Redaksi

Diskon Spesial
Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Admin Utama

Admin Utama

Administrator Utama

Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab Portal Berita INFODESANEWS.

Redaksi Wilayah • Terverifikasi Kominfo 593

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
6 + 7 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi