Rabu, 30 September 2026
TERKINI
• Ponpes Al Abror Rayakan HUT ke-4, Plt Asisten II Bernostalgia dan Ajak Warga Waspada Kebakaran (49 menit yang lalu) • Dari TOGA ke Pasar Digital, UMS Bekali Mitra PAKYA Herbal (2 jam yang lalu) • Pemerintah Desa Sidodadi Asri Gelar Musyawarah Rencana Pembangunan Desa Tahun 2027 (2 jam yang lalu) • Karang Taruna Got Talent 2026 Siapkan Panggung Talenta Muda Lampung Selatan, Saatnya Bakat Lokal Tunjukkan Prestasi (7 jam yang lalu) • Pemerintah Desa Margo Mulyo Gelar Musrenbangdes Tahun 2027 (8 jam yang lalu) • DPP KAMPUD Hadiri Undangan Klarifikasi di POLDA Lampung: Usut Dugaan Korupsi 14 Proyek Alkes RSUD KH Ahmad Hanafiah (10 jam yang lalu) • GERAK CEPAT TNI-POLRI DAN DAMKAR, SALURKAN AIR BERSIH MENGALIR UNTUK WARGA DESA SERDANG (10 jam yang lalu) • Kodim 0906/Kkr Salurkan Bantuan Air Bersih kepada Warga Bendang Raya (10 jam yang lalu) • Musrenbangdes Tahun 2027, Pemerintah Desa Sumber Jaya Berharap Pemkab Lamsel Bangun Jalan Tapip. (18 jam yang lalu) • Musrenbangdes Tahun 2027 Di Desa Margodadi, Noven Fahri Paparkan Pembangunan Di Tahun 2026 (18 jam yang lalu)
NASIONAL 13 September 2022, 12:57 WIB 1,650 PDF

Ketua MPR RI Terima Persatuan Dokter Mata Indonesia Bali

Admin Utama
Oleh: admin • ~2 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Ketua MPR RI Terima Persatuan Dokter Mata Indonesia Bali
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / admin

BALI – Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo menerima Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) Bali dan direksi Rumah Sakit Mata Ramata Bali.” Menyoroti tingginya prevalensi kebutaan di Indonesia yang mencapai 3 juta orang atau sekitar 1,5 persen dari populasi penduduk. Setiap menit, dikabarkan 1 orang menjadi buta. Tertinggi di Asia Tenggara, karena Bangladesh saja hanya 1 persen, India 0,7 persen, dan Thailand 0,6 persen.

“Insiden kebutaan di Indonesia setiap tahunnya mencapai 0,1 persen atau sekitar 210.000 orang. Berdasarkan data Perdami, pada tahun 2017 saja terdapat 8 juta orang dengan gangguan penglihatan di Indonesia. Terdiri dari 1,6 juta orang yang mengalami kebutaan, ditambah 6,4 juta orang dengan gangguan penglihatan sedang dan berat,” ujar Bamsoet usai menerima Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) Bali dan Direksi RS Mata Ramata di Bali, Selasa (13/9/22).

Pengurus Perdami dan Direksi RS Mata Ramata yang hadir antara lain Komisaris Made Ardjaja, Direktur Eka Bayu Putra, Kadiv Pelayanan Medis Surya, Kadiv Penunjang Medis Ika Wardani, Kadiv Keuangan & Administrasi Adi Putra serta Casemix Teguh. Hadir pula Direktur RS Puri Raharja Bagus Darmayasa.

Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, banyak faktor yang menyebabkan kebutaan. Misalnya, glaukoma, katarak, hingga diabetes. Hasil survei kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014 hingga 2016 dari Badan Litbangkes Kemenkes melaporkan, pada usia 50 tahun ke atas angka kebutaan di Indonesia mencapai tiga persen. Sebanyak 81 persen diantaranya disebabkan karena katarak.

“Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2019 lalu melaporkan, secara global ada 2,2 miliar penduduk dunia mengalami gangguan mata, sebanyak 76 juta diantaranya menderita glaukoma. Kebutaan akibat glaukoma di dunia mencapai 6,9 juta penduduk,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia ini menerangkan, selain katarak dan glaukoma, penyebab kebutaan terbesar lainnya yakni dikarenakan diabetes yang menyebabkan retinopati diabetik. Data International Diabetes Federation (IDF) melaporkan pada tahun 2017 terdapat 425 juta pasien diabetes di dunia. Sebanyak 127 juta diantaranya menderita retinopati diabetik, dengan 12 juta diantaranya terancam mengalami kebutaan.

“Pemerintah terus berupaya menekan angka kebutaan. Untuk menyembuhkan katarak, misalnya, masyarakat bisa memanfaatkan BPJS Kesehatan yang menanggung operasi katarak. Begitupun dengan berbagai penyebab kebutaan lainnya. Keseriusan ini tak lain karena dari berbagai kajian dilaporkan, kerugian Indonesia akibat gangguan penglihatan parah dan kebutaan, bisa mencapai Rp. 84,7 Triliun setiap tahunnya. Oleh karena itu, antisipasi maupun pengobataan terhadap kebutaan sangat penting untuk dilakukan,” jelas Bamsoet. (@Gus)

Oleh: admin

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #NASIONAL #infodesanews #kabarindonesia
Admin Utama
Jurnalis Terverifikasi Administrator Utama

Admin Utama

Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab Portal Berita INFODESANEWS.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
6 + 7 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi