Kamis, 1 Oktober 2026
TERKINI
• Presiden Prabowo Resmikan Renovasi Museum Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya (2 jam yang lalu) • Dugaan Keracunan MBG Kembali Terjadi di Blora, 13 Siswa SDN 1 Tutup Alami Keluhan (4 jam yang lalu) • Polres Blora Bongkar 5 Kasus Narkoba, 8 Tersangka Diamankan (8 jam yang lalu) • 63 Prajurit Kodim 0721/Blora Naik Pangkat, Dandim Tekankan Tanggung Jawab Lebih Besar (11 jam yang lalu) • Revitalisasi KB Aisyiyah Dologan: Bangunan Baru, Semangat Baru untuk Anak Usia Dini (11 jam yang lalu) • Teguhkan Nilai-Nilai Pancasila Danramil Tenggarong Hadiri Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila (12 jam yang lalu) • Pancasila Dikumandangkan, Keadilan Dipertanyakan (15 jam yang lalu) • Renungan Suci di Tugu Pancasila Blora, Pemuda Pancasila Ajak Masyarakat Bumikan Nilai-Nilai Pancasila (23 jam yang lalu) • Lampung Selatan, Duduki Pringkat 3 Nasional Dalam PPD 2026 (1 hari yang lalu) • Secara Aklamasi Mas Bro Jadi Ketua Umum DPD LPM Kabupaten Lampung Selatan (1 hari yang lalu)
INFODESA 02 Desember 2021, 09:24 WIB 2,724 PDF

Wakil Bupati Pati : Produsen Garam Hasilkan Produk Sesuai Standar Kesehatan

Admin Utama
Oleh: admin • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Wakil Bupati Pati : Produsen Garam Hasilkan Produk Sesuai Standar Kesehatan
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / admin

PATI,INFODESANEWS.COM – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Semarang menggelar Focus Group Discussion (FGD) Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Produk Garam di Kabupaten Pati, Rabu (1/12/2021).

Kegiatan ini dilaksanakan di Muria Ballroom The Safin Hotel dan dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Pati Saiful Arifin.

Kepala BBPOM di Semarang, Sandra MP Linthin, mengatakan bahwa digelarnya FGD ini dilatarbelakangi temuan pihaknya saat melakukan pengawasan produk garam di Pati.

“Dari 41 produsen garam yang kami periksa door to door, sebanyak 50 persen masih tidak memenuhi ketentuan untuk garam beryodium. Artinya kandungan yodium dalam garam produksi mereka masih di bawah standar yang ditetapkan, yakni 30 ppm (part per million),” jelas Sandra.

Padahal, lanjut dia, kadar yodium tertentu perlu ditambahkan pada garam demi mengurangi angka stunting.

“Ini program dunia. WHO mencanangkan ini dengan adanya SDG’s. Bagaimana supaya anak-anak kita bisa jadi generasi penerus yang berkualitas dan berdaya saing. Garam beryodium akan berfungsi untuk pengendalian angka stunting,” kata Sandra.

Karena itu, papar Sandra, pihaknya mengundang sejumlah pihak dalam FGD ini, di antaranya produsen garam, lembaga konsumen, juga sejumlah instansi yang memiliki kewenangan terkait produksi garam, di antaranya dinas perdagangan dan perindustrian.

“Apa saja keluhan mereka, kami tampung untuk sama-sama bisa lebih bersinergi demi peningkatan kualitas garam yang diproduksi di Pati,” tandas dia.

Sementara, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin mengajak para pelaku UKM dan IKM produsen garam untuk memiliki kesadaran bahwa mereka bertanggung jawab menghasilkan produk yang layak konsumsi sesuai standar kesehatan.

“Kita menjalankan usaha untuk mencari uang, tapi kita pikirkan juga kesehatan masyarakat yang mengonsumsi produk kita,” ujar pria yang akrab disapa Safin ini.

Ia mendorong pelaku usaha garam agar tidak hanya bersaing masalah harga. Hal terpenting justru adalah masalah kualitas.

Namun, persaingan di sini bukan berarti usaha yang besar mematikan yang kecil. Justru perlu langkah kolaboratif agar potensi pergaraman di Pati, yang menurut Safin termasuk terbesar di Indonesia setelah Madura, bisa dimaksimalkan.

“Promosikan bareng, yang kecil disupport yang besar, yang besar juga jangan bunuh yang kecil. Ikatan persaudaraan produsen garam ditingkatkan. Sama-sama perbesar market. Teman-teman IKM dan UKM bisa berkomunikasi dengan disdagperin untuk memasarkan produk ini dengan baik. Jangan saling pengen menang sendiri,” tegas Safin.

Namun demikian, ia juga meminta BBPOM dan instansi terkait untuk melakukan tugas pembimbingan dan pengawasan secara baik.

“Semua kawan-kawan ini mesti dibantu, dibimbing untuk menjadi produsen yang benar-benar sesuai standar kesehatan. Itu tugas negara, edukasi tetap kita jalankan,” tegas dia.

Sebagai timbal balik, Safin juga meminta BBPOM serta Disdagperin untuk mempermudah perizinan produsen garam.

“Jangan ada lagi dipersulit masalah perizinan edar. Biasanya pelaku usaha agak malas berurusan dengan birokrasi. Saya tahu karena dulu fokus di dunia usaha. Tapi sekarang juga jadi bagian dari birokrasi, maka saya harap ini jadi acuan. Ayo kita layani pelaku UKM-IKM untuk mengurus perizinan, kita permudah,” ujar dia.(@Gus)

Oleh: admin

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Admin Utama
Jurnalis Terverifikasi Administrator Utama

Admin Utama

Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab Portal Berita INFODESANEWS.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
4 + 5 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi