BLORA, INFODESANEWS – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day tahun ini dimaknai berbeda oleh sejumlah aktivis. Bukan hanya sebagai agenda tahunan, momen ini dinilai sebagai saat yang tepat untuk refleksi dan evaluasi sistem ketenagakerjaan di Indonesia.
Aktivis Agus Flash menegaskan bahwa May Day harus menjadi ruang untuk mengingat kembali makna perlawanan terhadap ketidakadilan, tidak hanya bagi kaum buruh, tetapi seluruh rakyat yang merasakan ketimpangan sosial.
“May Day adalah hari refleksi. Tentang bagaimana kita melawan ketidakadilan, memperjuangkan hak, dan memastikan kesejahteraan tidak hanya jadi janji,” ujarnya.
Menurut Agus, realitas saat ini menunjukkan masih banyak pekerja dalam kondisi rentan, mulai dari upah yang tidak layak hingga minimnya perlindungan kerja. Ia menilai kondisi tersebut menuntut keberanian kolektif untuk bersuara. “Perlawanan itu bukan selalu tentang turun ke jalan, tetapi juga tentang keberanian bersikap, berpikir kritis, dan tidak diam saat hak dirampas,” tambahnya.
Pernyataan senada disampaikan oleh Rumah Juang, Guntur Andi Suryo. Ia menekankan bahwa May Day adalah cermin untuk melihat sejauh mana kerja dihargai dan manusia tidak sekadar diposisikan sebagai alat produksi.
“Di tengah tuntutan hidup yang makin keras, perjuangan buruh hari ini tak cukup hanya di jalan—ia harus masuk ke dalam sistem. Regulasi menjadi medan penting, tempat keadilan dirumuskan dan nasib pekerja ditentukan,” ujar Guntur.
Keduanya sepakat bahwa keadilan bukanlah hadiah, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan bersama, baik lewat suara, gerakan sosial, maupun kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat. Mereka berharap May Day tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi titik tolak gerakan yang lebih luas demi masyarakat yang adil dan sejahtera.**Red