Jumat, 25 September 2026
TERKINI
• Kodim 0721/Blora dan BAZNAS Bedah Dua Rumah Warga Sambut HUT ke-81 TNI (11 menit yang lalu) • Fly Jaya Buka Rute Penerbangan Reguler Masamba-Makassar Segera Mengudara (1 jam yang lalu) • Ketum LAFKI dr Benny, Dorong RS Elim Rantepao Dikembangkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan (1 jam yang lalu) • SDN 1 Plosarjo Terima Bantuan Revitalisasi, Kelas Rusak Kini Siap Jadi Ruang Belajar Nyaman (1 jam yang lalu) • Perkuat Kelembagaan dan Kolaborasi, PWI Sulsel Silaturahmi ke Bank Mandiri (2 jam yang lalu) • Dua Bulan Hampir Berlalu, RDP Limbah PT Ciomas Belum Terwujud, Ada Apa? (16 jam yang lalu) • Geothermal Rajabasa Ditolak Masyarakat, DPRD Siap Teruskan Aspirasi hingga ke Pemerintah Berwenang (23 jam yang lalu) • Bupati Banyumas Dukung GreenMu, Dorong Pengelolaan Sampah Bernilai Ekonomi (1 hari yang lalu) • Ilusa Berbagi, Salurkan 148 Tangki Air Bersih untuk Warga Blora (1 hari yang lalu) • Kejari Lampung Timur Periksa Sejumlah Pihak: Pengusutan Dugaan Korupsi Proyek Sapi Dinas Perikanan dan Peternakan (1 hari yang lalu)
NASIONAL 30 Januari 2019, 19:58 WIB 1,505 kali dibaca ~3 mnt baca Bukti Tayang (PDF)

Tak Ada K.H. Hasyim Asy’ari, Tak Ada NKRI

Penulis: Redaksi
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Tak Ada K.H. Hasyim Asy’ari, Tak Ada NKRI
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaksi

SEMARANG, INFODESANEWS – Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang mengungkapkan, bila di Indonesia tidak ada pendiri Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Hasyim Asy’ari, maka tidak akan pernah ada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pernyataan tersebut disampaikan dalam Lailatul Ijtima Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Selasa (29/1/2019), malam.

Lebih lanjut, Kiai yang dikenal sebagai budayawan ini mengungkapkan kisah pertemuannya dengan pemilik museum dalam sebuah pameran lukisan, belum lama ini. Di mana dalam pameran terdapat lukisan Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

“Lalu saya tanya siapa ini?” tanya Gus Mus pada pemilik museum tersebut, “Dia mengatakan, kalau tidak ada orang ini (K.H. Hasyim Asy’ari,red), tidak ada NKRI,” ungkapnya.

Ungkapan tersebut merupakan membuat Gus Mus heran. Pasalnya, fakta tersebut pada umumnya hanya diketahui oleh warga NU yang mempelajari sejarah NU.

“Kalau yang mengatakan orang NU, saya tidak heran, tapi yang mengatakan ini seorang singkek (istilah untuk etnis Tionghoa yang kental,red),” ujarnya.

Gus Mus mengingatkan, NU sebagai sebuah organisasi massa keagamaan yang didirikan oleh para Ulama dari kalangan pengasuh pesantren, saat ini mengalami banyak ujian. Salah satunya, menghilangkan pengaruh Kiai terhadap umatnya.

“NU yang didirikan oleh para kiai pesantren, sekarang ini sudah mulai dikacaukan dengan cara tidak menghormati kiainya dan membuat kiai sendiri, atau bahkan memfitnah,” ujarnya.

Menurut Gus Mus, kiai NU yang berasal dari pesantren diyakini memiliki ilmu agama yang dapat dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu, sebagai bukti, Gus Mus menerangkan tentang ilmu agama para kiai tersebut dapat dipertangung jawabkan dari adanya mata rantai atau silsilah keguruan (sanad) yang sampai pada Nabi Muhammad.

Selain itu, Gus Mus menjelaskan gramatika bahasa arab yang tidak bisa diselesaikan dalam penerjemahan. Karena itu kitab-kitab klasik atau yang sering disebut kitab kuning sebagai produk Ulama terdahulu bisa digunakan sebagai panduan praktis tentang agama Islam atau sebagai pedoman umat.

“Mereka (orang yang gemar menyalahkan) tidak tahu itu. Mereka pikir para Ulama tidak menggunakan al Qur’an,” tandasnya.

Gus Mus menuturkan, Ulama memandang umat dengan pandangan kasih sayang, di mana pada umumnya tidak mempunyai kemampuan dalam menafsirkan al Qur’an, “Ini wujud cinta kasih para Ulama pada umatnya. Karena Ulama sebagai pewaris Nabi, dan puncaknya kasih sayang ada pada Nabi,” tegasnya.

Diakhir tausyiyah, Gus Mus berpesan untuk tetap dan yakin dalam NU, “Saya minta, yang belum di NU masuklah ke NU. Yang sudah masuk NU, mantablah di NU,” pesannya.

Untuk diketahui, Lailatul Ijtima dibuka dengan pembacaan Maulid Nabi Muhammad, dilanjutkan Mujahadah yang dipimpin K.H. Ahmad Hadlor Ihsan, jajaran syuriah PWNU Jateng sekaligus pengasuh PP Al Ishlah, Mangkang Kulon, Tugu, Kota Semarang. (Rifqi)

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Iklan Penulis & Sponsor Space Iklan Disewakan - Hubungi Redaksi

Rekomendasi Shopee Pilihan Redaksi

Diskon Spesial
Topik: #NASIONAL #infodesanews #kabarindonesia
Redaksi Infodesanews

Redaksi Infodesanews

Redaksi Pelaksana & Admin

Dewan Redaksi Pusat INFODESANEWS Bersama Membangun Indonesia.

Redaksi Wilayah • Terverifikasi Kominfo 593

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
2 + 7 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi