Jumat, 25 September 2026
TERKINI
• Dua Bulan Hampir Berlalu, RDP Limbah PT Ciomas Belum Terwujud, Ada Apa? (11 jam yang lalu) • Geothermal Rajabasa Ditolak Masyarakat, DPRD Siap Teruskan Aspirasi hingga ke Pemerintah Berwenang (18 jam yang lalu) • Bupati Banyumas Dukung GreenMu, Dorong Pengelolaan Sampah Bernilai Ekonomi (1 hari yang lalu) • Ilusa Berbagi, Salurkan 148 Tangki Air Bersih untuk Warga Blora (1 hari yang lalu) • Kejari Lampung Timur Periksa Sejumlah Pihak: Pengusutan Dugaan Korupsi Proyek Sapi Dinas Perikanan dan Peternakan (1 hari yang lalu) • Kuasa Hukum Korban Pertanyakan Dasar Tuntutan 9 Tahun terhadap Ansori dalam Kasus Fajar Aries Saputra (1 hari yang lalu) • DPRD Lamsel Gelar RDP Gabungan Komisi DPRD Lamsel Bahas Rencana Geothermal Gunung Rajabasa (1 hari yang lalu) • Bupati Egi: Pesantren Membentuk Generasi Muda di Tengah Pesatnya Tekhnologi dan Arus Informasi (2 hari yang lalu) • Bupati Egi: Pesantren Membentuk Generasi Muda di Tengah Pesatnya Tekhnologi dan Arus Informasi (2 hari yang lalu) • Pastikan Penyaluran Tepat Sasaran, Babinsa Dampingi Pembagian Bantuan Beras (2 hari yang lalu)
NASIONAL 20 Januari 2026, 09:18 WIB 1,533 kali dibaca ~3 mnt baca Bukti Tayang (PDF)

Upaya Penanganan Konflik Gajah Taman Nasional Way Kambas

Penulis: Korwil Lampung
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Upaya Penanganan Konflik Gajah Taman Nasional Way Kambas
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Korwil Lampung

LAMPUNG, INFODESANEWS – Konflik antara gajah liar dan aktivitas manusia masih menjadi tantangan serius dalam pengelolaan kawasan konservasi, khususnya di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Untuk menekan konflik tersebut, Balai TNWK terus melakukan berbagai upaya penanganan secara terpadu dan berkelanjutan.

Sejumlah langkah yang telah dilakukan meliputi patroli intensif di wilayah rawan konflik, pemasangan GPS collar pada kelompok gajah liar, pemanfaatan gajah jinak untuk kegiatan blokade, pembangunan pos-pos jaga, serta penggiringan gajah kembali ke habitat alaminya. Pengamanan kawasan juga dilakukan secara kolaboratif bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP), mitra TNWK, TNI-Polri, serta masyarakat sekitar guna mencegah satwa keluar dari kawasan konservasi.

Selain upaya di lapangan, Balai TNWK juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam merespons setiap kejadian konflik secara cepat, terukur, dan berkesinambungan.

Ke depan, Balai TNWK menilai bahwa pencegahan konflik gajah tidak dapat mengandalkan satu pendekatan saja. Pendekatan struktural dan ekologis harus berjalan beriringan agar hasil yang dicapai lebih efektif.

Dari sisi fisik, penguatan infrastruktur pengamanan kawasan menjadi salah satu fokus utama. Tanggul eksisting sepanjang 12 kilometer di wilayah utara TNWK yang dibangun oleh BBWS dinilai masih dalam kondisi baik dan kokoh. Namun, diperlukan pembangunan tanggul dan kanal sepanjang 11 kilometer di wilayah perbatasan Kecamatan Way Jepara yang selama ini menjadi lokasi terjadinya korban konflik.

Selain itu, juga direncanakan pembangunan pagar pengaman sepanjang 18 kilometer di wilayah Muara Jaya hingga Margahayu, serta Tembok Penahan Tanah (TPT) pada titik-titik rawan lintasan gajah sepanjang 21 kilometer, membentang dari utara hingga selatan batas TNWK. Balai TNWK juga mendorong pembangunan pembatas permanen pada batas alam sungai, yakni Sungai Way Pegadungan, Way Seputih, dan Sungai Kuala Penet dengan total panjang sekitar 60 kilometer. Infrastruktur ini diharapkan menjadi pembatas alami agar pergerakan gajah tetap berada di dalam kawasan konservasi.

Namun demikian, upaya pencegahan konflik tidak akan optimal tanpa perbaikan kondisi habitat di dalam kawasan. Dalam kurun waktu 2021–2024, Balai TNWK telah melakukan pemulihan ekosistem seluas 1.286,84 hektare, dengan menanam berbagai jenis tanaman ekosistem daratan, ekosistem perairan (mangrove), serta tanaman pakan bagi gajah dan badak.

Kegiatan pemulihan tersebut dinilai perlu terus diperluas, mengingat pengkayaan jenis pakan satwa dan reforestasi menjadi langkah penting untuk memenuhi kebutuhan pakan dan ruang jelajah gajah di dalam hutan, sehingga satwa tidak terdorong keluar menuju area aktivitas manusia.

Seluruh upaya tersebut membutuhkan pembiayaan yang besar dan berkelanjutan. Untuk itu, Balai TNWK mendorong pembiayaan lintas sektor dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga non-pemerintah, serta mitra pembangunan lainnya. Konservasi gajah dan pencegahan konflik, menurut Balai TNWK, bukan hanya tanggung jawab pengelola kawasan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan.

Dengan kolaborasi yang kuat, pendekatan berbasis sains, serta dukungan semua pihak, Balai TNWK optimistis konflik gajah dapat ditekan dan keberlanjutan ekosistem Taman Nasional Way Kambas dapat terus terjaga. Selasa (20/1/2026). **Ronald.

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Iklan Penulis & Sponsor Space Iklan Disewakan - Hubungi Redaksi

Rekomendasi Shopee Pilihan Redaksi

Diskon Spesial
Topik: #NASIONAL #infodesanews #kabarindonesia
Korwil Lampung

Korwil Lampung

Koordinator Wilayah Lampung

Koordinator liputan investigasi, hukum, dan peristiwa daerah Lampung.

Redaksi Wilayah • Terverifikasi Kominfo 593

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
2 + 8 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi