BLORA, INFODESANEWS — Kerajinan akar asal Blora, Jawa Tengah, terus menembus pasar internasional. Sejak awal 2025, produk kerajinan dari Blora telah dikirim ke sejumlah negara, mulai dari Eropa, Amerika, Australia, hingga Selandia Baru.
"Sekitar 90 persen produksi kita untuk ekspor, sisanya hanya sebagian kecil untuk pasar lokal," ujar Widyasintha Himayanti Onwer CV. Wreksa Indonesia, Kamis (29/2026).
Widyasintha menambahkan, produk yang diekspor sebagian besar berupa kerajinan akar, disusul produk daur ulang (recycle) dan dekorasi. Menurut pelaku usaha, akar menjadi produk unggulan Blora karena bahan baku ini hanya terdapat di daerah tersebut.
"Kayak Jepara, Jogja, Semarang, pasti akar dari Blora," katanya.
Untuk produksi, bahan baku diperoleh dari sejumlah supplier di wilayah Blora dan sekitarnya, seperti Nglebur, Nglobo, dan Randublatung. Bahan setengah jadi tersebut kemudian diproses finishing, diamplas, dan dikemas sebelum dikirim ke pembeli luar negeri.
Sementara itu, CV. Wood Smart, Abdul Mujib mengatakan, negara tujuan pengiriman antara lain Belanda untuk pasar Eropa, Amerika Serikat dan Kanada, serta Australia dan Selandia Baru. Pembayaran dilakukan secara aman melalui transfer telegrafik (TT) dengan sistem DP dan pelunasan sebelum kontainer berangkat.
Namun, di balik capaian ekspor tersebut, pelaku usaha mengaku masih menghadapi sejumlah kendala. Tantangan utama adalah faktor cuaca dan keterbatasan alat produksi yang masih manual, termasuk oven bakar yang belum bisa mengatur suhu secara otomatis.
"Kalau ditinggal sebentar, suhu turun lagi, mati," keluhnya.
Selain itu, persaingan dengan eksportir dari luar Blora juga menjadi tantangan tersendiri, terutama terkait harga. Pelaku usaha berharap pemerintah daerah, khususnya Pemkab Blora, dapat memberikan dukungan kepada UMKM setempat.
"Kita mohon kepada Pemkab Blora agar mensupport teman-teman UMKM seperti kita. Meskipun bukan kita yang dapat, saya harap Pemkab Blora peduli kepada UMKM Blora," pungkasnya.
Meski dikenal sebagai daerah penghasil akar terbaik, pelaku usaha menilai ekspor Blora masih tertinggal dibandingkan Jepara yang telah menggunakan mesin dengan suhu terkontrol.**Red