Senin, 9 November 2026
TERKINI
• Luwes Orange Run Meriahkan HUT ke-59 Luwes Grup di Blora (17 jam yang lalu) • Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (1 hari yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (1 hari yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (2 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (2 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (2 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (2 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (2 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (2 hari yang lalu)
KHAZANAH 23 Februari 2026, 04:48 WIB 2,606 PDF

Bubur Samin Tradisi Ramadhan Masjid Darussalam Jayengan, Simbol Keberkahan dan Kerinduan

Kabiro Surakarta
Oleh: Kabiro Surakarta • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Bubur Samin Tradisi Ramadhan Masjid Darussalam Jayengan, Simbol Keberkahan dan Kerinduan
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Kabiro Surakarta

SOLO – INFODESANEWS | Aroma rempah khas kayu manis dan cengkih menyeruak di halaman Masjid Darussalam, Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo, pada Kamis (19/2/2026).

Ratusan warga dari berbagai penjuru Solo Raya tampak berjajar rapi, menggenggam wadah makanan di tangan masing-masing. Mereka rela mengantre demi mendapatkan satu porsi Bubur Samin, kuliner legendaris khas Banjar yang hanya muncul saat bulan Ramadan.

 

Tahun ini, suasana pembagian takjil terasa lebih istimewa. Pasalnya, tradisi Bubur Samin telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia pada tahun 2025 lalu. Pengakuan negara ini semakin meneguhkan posisi Bubur Samin bukan sekadar menu berbuka, melainkan identitas budaya yang kuat di Kota Bengawan.

Hadir dalam pembagian perdana tersebut, Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Solo, Astrid Widayani, didampingi mantan Wali Kota Solo, Teguh Prakosa, serta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Maretha. Dalam sambutannya, Astrid mengapresiasi konsistensi Takmir Masjid Darussalam dalam merawat tradisi ini.

“Ini bukti nyata akulturasi budaya Banjar yang menyatu harmonis dengan masyarakat Solo. Pengakuan sebagai WBTb adalah momentum bagi Pemkot untuk memperkuat pelestarian tradisi berbasis komunitas,” ujar Astrid di sela-sela kegiatan.

Simbol Keberkahan dan Kerinduan

Bagi warga seperti Marsiyati (70), antre Bubur Samin adalah ritual tahunan yang tak boleh terlewatkan. Warga Gajahan ini mengaku sudah menjadi "pelanggan tetap" sejak anak-anaknya masih kecil hingga kini telah berkeluarga.

“Rasanya enak sekali, bikin kangen. Saya bawa dua wadah untuk makan bareng keluarga. Selain rasanya, kita juga mencari keberkahannya,”tutur Marsiyati yang sudah bersiap di lokasi bahkan sebelum azan Asar berkumandang.

Mudik Lebaran 2026: KAI Daop 6 Obral Diskon Tiket 30%Misi Budaya: Kagura Jepang dan Tari Srimpi Bertemu di Solo

Sejarah Panjang Sejak 1965

Takmir Masjid Darussalam, Noor Cholish, menceritakan bahwa tradisi ini berakar dari kebiasaan paguyuban perantau asal Kalimantan Selatan (Suku Banjar) sejak tahun 1930-an. Namun, pembagian secara masif kepada masyarakat baru dimulai secara konsisten sejak tahun 1965.

“Awalnya hanya untuk internal warga Jayengan yang merantau. Namun karena jemaah semakin banyak, porsi terus ditambah hingga bisa dinikmati masyarakat umum,” jelas Noor Cholish.

Untuk memenuhi antusiasme warga, pihak panitia memasak sekitar 40 hingga 50 kg beras setiap harinya, dicampur dengan 4 kg daging sapi, wortel, serta bumbu rempah yang melimpah. Dari bahan tersebut, dihasilkan 1.500 paket bubur: 1.200 paket untuk warga yang datang membawa wadah, dan 300 paket sisanya untuk takjil di masjid.

Operasional tradisi ini tergolong besar. Dengan biaya harian mencapai Rp 3 juta, dibutuhkan anggaran sekitar Rp 90 juta selama satu bulan penuh. Beruntung, semangat gotong royong tetap terjaga melalui donasi dari berbagai pihak.

“Alhamdulillah, donatur ada yang memberi uang maupun barang. Pemerintah Kota Surakarta sendiri menyumbang 1.500 kg beras untuk kebutuhan tahun ini,” tambah Noor.

Proses memasak dimulai sejak pukul 11.00 WIB dan baru siap dibagikan tepat setelah salat Asar. Meski zaman berganti, kuali besar di Masjid Darussalam tetap mengepul, menjaga cita rasa dan tali persaudaraan yang telah terjalin selama hampir satu abad. (Wati/Redslo)

Oleh: Kabiro Surakarta

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #KHAZANAH #infodesanews #kabarindonesia
Kabiro Surakarta
Jurnalis Terverifikasi Kepala Biro Solo Raya & Surakarta

Kabiro Surakarta

Pewarta isu sosial kemasyarakatan, budaya keraton, dan pemerintahan Solo Raya.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
7 + 6 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi