LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS — Kemegahan Upacara Pitra Yadnya atau Ngaben Massal di Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, tidak hanya terlihat dari khidmatnya prosesi keagamaan.
Di balik ritual sakral tersebut, terpancar kekayaan seni dan budaya yang tumbuh, dirawat, dan diwariskan masyarakat Bali di Lampung dari generasi ke generasi.
Deretan bade dan petulangan dengan ornamen penuh warna, ukiran yang detail, payung-payung adat, busana tradisional, hingga tata upacara yang sarat simbol menjadikan Ngaben Massal Balinuraga sebagai sebuah pertunjukan budaya yang memiliki nilai artistik tinggi.
Namun, kemegahan itu bukan sekadar tontonan.
Setiap ornamen, bentuk, warna dan rangkaian prosesi memiliki keterkaitan dengan nilai adat, spiritualitas serta penghormatan kepada leluhur. Karena itu, Ngaben Massal harus dipandang sebagai warisan budaya yang hidup, bukan sekadar agenda seremonial tahunan.
Pelaksanaan Ngaben Massal Balinuraga 2026 bahkan mendapat perhatian luas karena besarnya antusiasme masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan juga mulai melihat Balinuraga sebagai salah satu potensi destinasi wisata budaya yang dapat dikembangkan dengan tetap menjaga nilai sakral dan kearifan lokal.
Bade dan Petulangan, Seni yang Lahir dari Tradisi
Salah satu daya tarik paling kuat dalam prosesi Ngaben Massal adalah keberadaan bade, bangunan pengusung jenazah yang dibuat dengan tingkat kreativitas dan ketelitian tinggi.
Bade bukan hanya memiliki fungsi dalam prosesi adat, tetapi juga menjadi ruang ekspresi seni masyarakat. Ukiran, ornamen, bentuk bertingkat hingga berbagai simbol yang melekat di dalamnya menunjukkan bagaimana seni tradisional tetap hidup di tengah masyarakat modern.
Begitu pula petulangan, yang memperlihatkan kekayaan seni rupa tradisional Bali melalui bentuk, ukiran dan simbol yang sarat makna.
Kemegahan tersebut lahir bukan dari sebuah industri pertunjukan, melainkan dari gotong royong masyarakat yang bekerja bersama mempersiapkan seluruh kebutuhan upacara.
Di titik inilah nilai budaya Balinuraga menjadi semakin kuat: seni tidak dipisahkan dari adat, adat tidak dipisahkan dari masyarakat, dan masyarakat menjadi penjaga keberlanjutan budaya.
Bukan Sekadar Ritual, Tetapi Identitas Ngaben pada hakikatnya merupakan bagian dari Pitra Yadnya, bentuk penghormatan dan bakti kepada orang tua serta leluhur. Nilai tersebut menjadi salah satu pesan utama yang tetap dipertahankan masyarakat Balinuraga.
Karena itu, ketika ribuan orang menyaksikan prosesi tersebut, yang sebenarnya terlihat bukan hanya kemegahan bade atau semarak pakaian adat.
Ada nilai penghormatan kepada leluhur, solidaritas sosial, gotong royong, disiplin adat dan keberlanjutan tradisi yang berjalan bersamaan.
Balinuraga pun menunjukkan bahwa masyarakat transmigran Bali di Lampung tidak kehilangan akar budayanya. Justru melalui ruang sosial yang terus dijaga, tradisi tersebut berkembang menjadi bagian dari identitas budaya Lampung Selatan.
Potensi Besar Wisata Budaya
Dari perspektif pariwisata, kemegahan Ngaben Massal Balinuraga memiliki potensi besar menjadi magnet wisata budaya.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan sebelumnya juga telah memiliki inovasi PRODESTA SIKOP, yakni promosi desa wisata seni budaya berbasis ekonomi kreatif yang diinisiasi Kecamatan Way Panji.
Konsep tersebut membuka ruang agar kekayaan seni dan budaya masyarakat dapat dikembangkan sebagai potensi wisata tanpa menghilangkan karakter lokalnya.
Lampung Selatan
Artinya, jika dikelola secara tepat, Ngaben Massal tidak hanya menghadirkan pengalaman budaya bagi pengunjung, tetapi juga dapat membuka ruang bagi UMKM, kuliner tradisional, kerajinan, seniman lokal, pelaku jasa wisata hingga ekonomi kreatif masyarakat.
Namun ada satu catatan penting: sakralitas harus tetap menjadi batas utama.
Pengembangan wisata budaya tidak boleh mengubah ritual menjadi sekadar komoditas tontonan. Justru nilai sakral, filosofi dan keterlibatan masyarakat adat harus menjadi kekuatan utama yang membedakan Balinuraga dari destinasi wisata biasa.
Dengan demikian, kemegahan Ngaben Massal Balinuraga bukan hanya tentang apa yang terlihat oleh mata, tetapi tentang nilai yang hidup di baliknya.
Seni yang diwariskan. Adat yang dijaga.
Gotong royong yang dipertahankan.
Dan spiritualitas yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
Balinuraga telah menunjukkan bahwa Lampung Selatan tidak hanya memiliki kekayaan alam, tetapi juga memiliki kekayaan budaya yang layak diperhitungkan sebagai salah satu identitas pariwisata daerah. INFODESANEWS — Mengabarkan Fakta, Mengawal Desa.