LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS – Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah di Masjid Nurul Huda, Dusun Girijaya 1, Desa Triharjo, Kecamatan Merbau Mataram, Kamis (15/01/2026), berlangsung khidmat dan sarat makna. Pada kesempatan tersebut, anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan dari Fraksi Partai Gerindra, Dwi Riyanto, didaulat untuk menyampaikan taushiyah.
Kegiatan keagamaan ini dihadiri jajaran Pemerintah Desa Triharjo, tokoh agama, tokoh masyarakat, remaja masjid, serta majelis taklim setempat. Rangkaian acara diawali dengan sajian mawalan yang dibawakan ibu-ibu jamaah, dilanjutkan doa bersama untuk para leluhur yang dipimpin oleh Ustadz Pranowo, Ustadz Sahlan, dan Ustadz H. Munir Arifin. Sebagai wujud rasa syukur atas nikmat rezeki, jamaah juga menggelar makan bersama.
Dalam sambutannya, H. Munir Arifin menyampaikan bahwa peringatan Isra Mikraj merupakan momentum penting untuk mensyukuri nikmat keimanan sekaligus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Memasuki puncak acara, taushiyah disampaikan oleh Dwi Riyanto, anggota dewan dua periode dari daerah pemilihan Kecamatan Tanjung Bintang, Merbau Mataram, dan Tanjung Sari. Mantan Komisioner KPU Lampung Selatan dua periode ini membacakan Kitab Barzanji, khususnya Bab 14 yang mengisahkan perjalanan agung Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, lalu menerjemahkan serta menjelaskannya secara rinci per kalimat.
Latar belakang pendidikan keagamaannya sejak Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah di Tanjung Bintang membuat Dwi Riyanto tampil fasih dan mendalam dalam mengulas makna Isra Mikraj sebagaimana tertuang dalam Kitab Barzanji.
Dalam taushiyahnya, alumnus Magister Manajemen Universitas Lampung tahun 2014 ini mengajak jamaah untuk semakin menjaga dan merawat shalat, khususnya shalat berjamaah. Ia menegaskan, shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab di akhirat.
“Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalannya. Namun jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalannya,” ujar Dwi Riyanto mengutip sebuah hadits.
Lebih lanjut, wakil rakyat yang dikenal dekat dengan masyarakat ini menekankan kedudukan shalat dalam Islam. Ia mengibaratkan shalat sebagai kepala dalam tubuh manusia.
“Shalat itu ibarat kepala. Jika seseorang mengaku beragama Islam tetapi meninggalkan shalat, maka seperti tubuh tanpa kepala. Tidak ada rupa untuk mengenalinya,” tegasnya.
Usai acara, sebagai bentuk kebersamaan sekaligus menyongsong pergantian tahun, Dwi Riyanto yang dikenal konsisten mendukung gerakan seni dan budaya membagikan kalender kepada jamaah sebagai souvenir untuk dibawa pulang. (red)