Senin, 9 November 2026
TERKINI
• Luwes Orange Run Meriahkan HUT ke-59 Luwes Grup di Blora (15 jam yang lalu) • Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (1 hari yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (1 hari yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (2 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (2 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (2 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (2 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (2 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (2 hari yang lalu)
INFODESA 15 Agustus 2026, 08:01 WIB 1,282 PDF

HUT ke-81 RI: Merdeka di Panggung, Terjepit dalam Kehidupan

Redaktur Lampung
Oleh: Redaktur Lampung • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

HUT ke-81 RI: Merdeka di Panggung, Terjepit dalam Kehidupan
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaktur Lampung

INFODESANEWS — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, merah putih kembali berkibar di berbagai penjuru negeri. Lagu kebangsaan berkumandang, upacara disiapkan, lomba-lomba digelar, dan berbagai slogan tentang kemerdekaan memenuhi ruang publik.

Namun, di balik gegap gempita perayaan itu, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan: sudahkah kemerdekaan benar-benar terasa bagi rakyat kecil dan mereka yang hidup dalam keterbatasan?

Kemerdekaan tidak semestinya hanya diukur dari meriahnya upacara atau banyaknya bendera yang terpasang. Kemerdekaan seharusnya hadir dalam bentuk yang paling sederhana: anak-anak miskin bisa bersekolah tanpa merasa minder, keluarga kurang mampu bisa berobat tanpa takut biaya, petani dan buruh memperoleh penghasilan yang layak, serta masyarakat kecil mendapatkan akses terhadap pelayanan publik secara adil.

Sebab bagi rakyat yang setiap hari masih berpikir bagaimana membeli beras, membayar biaya sekolah, mencari pekerjaan, atau memenuhi kebutuhan keluarganya, kemerdekaan bukan sekadar kata-kata.

Kemerdekaan adalah ketika mereka tidak lagi merasa menjadi penonton di negeri sendiri.

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi momentum untuk bertanya lebih dalam: ke mana arah pembangunan kita? Apakah anggaran benar-benar turun kepada mereka yang paling membutuhkan? Apakah kebijakan pemerintah mampu mengurangi kesenjangan, atau justru semakin jauh dari kehidupan rakyat kecil?

Jangan sampai rakyat miskin hanya menjadi objek dalam pidato-pidato tentang kesejahteraan. Jangan pula kemiskinan dijadikan tameng untuk membenarkan kebijakan yang pada akhirnya tidak menyentuh akar persoalan.

Rakyat kecil tidak membutuhkan belas kasihan yang datang sesaat. Mereka membutuhkan keadilan, kesempatan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan kepastian hidup.

Kemerdekaan yang sesungguhnya bukan ketika pejabat bisa berdiri di podium dan berbicara tentang kesejahteraan. Kemerdekaan akan terasa ketika rakyat kecil bisa berdiri dengan kepala tegak karena kebutuhan dasarnya terpenuhi dan hak-haknya dihormati.

Di usia 81 tahun Republik Indonesia, mari kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perayaan. Dengarkan suara mereka yang jarang terdengar. Lihat mereka yang hidup di pelosok, di rumah-rumah sederhana, di pinggir jalan, di sawah, di pasar dan di tempat-tempat kerja dengan penghasilan pas-pasan.

Mereka juga pemilik republik ini.

Maka, merah putih yang kita kibarkan bukan hanya simbol perjuangan para pahlawan, tetapi juga pengingat bahwa perjuangan belum selesai.

Perjuangan hari ini adalah memastikan tidak ada rakyat yang tertinggal hanya karena miskin. Tidak ada anak yang kehilangan masa depan karena keterbatasan ekonomi. Tidak ada keluarga yang harus memilih antara makan atau berobat. Dan tidak ada masyarakat kecil yang merasa hukum, pembangunan dan pelayanan publik hanya berpihak kepada mereka yang kuat.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Semoga kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar sampai ke meja makan rakyat, ruang kelas anak-anak, tempat kerja para buruh, sawah para petani dan rumah-rumah sederhana masyarakat kecil.

Karena pada akhirnya, ukuran kemerdekaan bukan seberapa meriah kita merayakannya, tetapi seberapa jauh rakyat kecil merasakan manfaatnya.

OPINI

Penulis— Redaksi INFODESANEWS

Oleh: Redaktur Lampung

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Redaktur Lampung
Jurnalis Terverifikasi Redaktur Wilayah Lampung

Redaktur Lampung

Pengelola rubrik liputan daerah Lampung, dinamika desa, dan pembangunan nusantara.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
3 + 8 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi