Senin, 9 November 2026
TERKINI
• Luwes Orange Run Meriahkan HUT ke-59 Luwes Grup di Blora (16 jam yang lalu) • Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (1 hari yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (1 hari yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (2 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (2 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (2 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (2 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (2 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (2 hari yang lalu)
PARIWISATA 22 September 2024, 23:30 WIB 1,268 PDF

Keraton Yogyakarta: Jejak Sejarah dan Pusat Kebudayaan Jawa

Redaksi
Oleh: Redaksi • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Keraton Yogyakarta: Jejak Sejarah dan Pusat Kebudayaan Jawa
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaksi

Sejarah – Keraton Yogyakarta atau yang sering disebut juga dengan nama Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, merupakan salah satu ikon budaya yang menjadi pusat peradaban Jawa dan sejarah panjang Kerajaan Mataram.

Terletak di pusat kota Yogyakarta, Keraton ini menjadi simbol kedaulatan dan kemegahan budaya Jawa yang terjaga hingga kini.

Didirikan oleh Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755 setelah Perjanjian Giyanti, Keraton Yogyakarta tidak hanya berfungsi sebagai kediaman resmi Sultan, tetapi juga menjadi pusat kebudayaan dan spiritual bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

Awal mula pendirian Keraton Yogyakarta dimulai dengan pecahnya Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta didirikan sebagai pusat pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, yang juga berfungsi sebagai pusat politik, ekonomi, dan sosial masyarakat kala itu.

Arsitektur Keraton yang megah dan penuh simbolisme mencerminkan keharmonisan hubungan manusia dengan alam serta nilai-nilai kultural yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa.

Di dalam area Keraton, pengunjung dapat menjumpai berbagai bangunan dengan nilai sejarah tinggi, seperti Bangsal Kencono, yang merupakan aula utama untuk upacara kerajaan, hingga Museum Keraton yang memamerkan berbagai artefak peninggalan kerajaan.

Keseluruhan kompleks Keraton merepresentasikan filosofi kehidupan Jawa yang sarat akan ajaran spiritual dan tata krama luhur.

Keraton Yogyakarta tidak hanya berfungsi sebagai kediaman Sultan, tetapi juga menjadi pusat pelestarian tradisi dan budaya Jawa.

Berbagai upacara adat, seperti Grebeg Maulud, Sekaten, dan Labuhan, masih diselenggarakan setiap tahun di lingkungan Keraton.

Tradisi ini bukan hanya menjadi sarana untuk menjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai ajang untuk mempererat hubungan masyarakat dengan istana.

Para abdi dalem, yang merupakan pelayan istana, juga berperan penting dalam pelaksanaan berbagai upacara tersebut, menunjukkan komitmen Keraton untuk terus melestarikan tradisi Jawa.

Selain upacara adat, Keraton juga aktif mempromosikan seni tradisional seperti tari-tarian Jawa, gamelan, dan kerajinan batik. Berbagai pertunjukan seni ini dapat dinikmati oleh wisatawan yang berkunjung ke Keraton.

Dengan demikian, Keraton Yogyakarta tidak hanya berperan sebagai simbol kedaulatan, tetapi juga sebagai pusat edukasi budaya bagi masyarakat modern.

Di era modern ini, Keraton Yogyakarta tetap mempertahankan fungsinya sebagai pusat kebudayaan dan wisata. Ribuan wisatawan domestik dan mancanegara datang untuk menyaksikan keindahan arsitektur, kekayaan sejarah, serta berbagai tradisi yang masih terjaga.

Keraton juga berperan dalam menjaga identitas Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa, di mana Sultan masih memiliki peran dalam pemerintahan lokal.

Selain sebagai tempat wisata, Keraton juga menjadi destinasi spiritual bagi mereka yang ingin mendalami nilai-nilai ajaran Jawa.

Banyak pengunjung yang datang tidak hanya untuk melihat bangunan bersejarah, tetapi juga merasakan aura spiritual yang kental di setiap sudut kompleks Keraton.*Red/Adi.

Oleh: Redaksi

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #PARIWISATA #infodesanews #kabarindonesia
Redaksi
Jurnalis Terverifikasi Dewan Redaksi

Redaksi

Jurnalis dan kontributor portal berita siber INFODESANEWS - Bersama Membangun Indonesia.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
5 + 3 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi