LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS — Sebanyak 986 mahasiswa Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Tanjung Karang diterjunkan ke 25 desa di Kabupaten Lampung Selatan dalam rangka kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus pada percepatan peningkatan derajat kesehatan.
Program ini disambut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan sebagai langkah strategis memperkuat kolaborasi lintas sektor, khususnya dalam menjangkau pelayanan kesehatan hingga ke tingkat desa.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari proses akademik mahasiswa, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari edukasi kesehatan, pencegahan penyakit, hingga pendampingan pola hidup bersih dan sehat.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Selatan ,M. Darmawan, menyambut positif, bahwa kehadiran ratusan mahasiswa kesehatan di tengah masyarakat menjadi energi tambahan dalam mendukung program pemerintah daerah.
“Ini bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi bentuk kolaborasi nyata. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dalam percepatan pembangunan kesehatan, perlu dukungan semua pihak, termasuk perguruan tinggi,” ujarnya saat menerima langsung di ruang Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab setempat, Kamis (26/3/2026).
Mahasiswa yang diterjunkan berasal dari berbagai jurusan di Poltekkes Tanjung Karang, seperti keperawatan, kebidanan, kesehatan lingkungan, hingga gizi.
Mereka akan menjalankan program berbasis kebutuhan lokal di masing-masing desa penempatan.
Fokus kegiatan meliputi penanganan stunting, edukasi gizi keluarga, sanitasi lingkungan, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Selain itu, para mahasiswa juga akan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan setempat, kader posyandu, hingga pemerintah desa guna memastikan program berjalan efektif dan berkelanjutan.
Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya Pemkab Lampung Selatan dalam mempercepat capaian indikator kesehatan, terutama di wilayah pedesaan yang masih membutuhkan perhatian lebih.
Di sisi lain, masyarakat desa menyambut positif kehadiran mahasiswa yang dinilai membawa semangat baru serta pengetahuan praktis yang langsung bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir kegiatan, diharapkan akan lahir model kolaborasi yang bisa direplikasi di desa lain, sebagai bagian dari strategi jangka panjang pembangunan kesehatan berbasis masyarakat.
Lebih dari sekadar pengabdian, kehadiran ratusan mahasiswa ini menjadi pengingat: percepatan kesehatan tak bisa berjalan sendiri, melainkan harus ditopang kolaborasi yang menyentuh langsung kehidupan warga. (red)