Senin, 9 November 2026
TERKINI
• Luwes Orange Run Meriahkan HUT ke-59 Luwes Grup di Blora (13 jam yang lalu) • Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (1 hari yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (1 hari yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (2 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (2 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (2 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (2 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (2 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (2 hari yang lalu)
INFODESA 28 Oktober 2019, 01:18 WIB 515 PDF

Mainan Gerabah, Tak Lekang Oleh Waktu

Kabiro Surakarta
Oleh: Kabiro Surakarta • ~2 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Mainan Gerabah, Tak Lekang Oleh Waktu
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Kabiro Surakarta

SURAKARTA, INFODESANEWS – Perkembangan zaman modern yang diiringi dengan perangkat teknologi cangih yang semakin diminati anak-anak milenial, tentunya semakin menggerus keberadaan mainan tradisional.

Meskipun demikian, hal tersebut tidak menyurutkan pedagang mainan gerabah asal Jepara, Jateng, Suyatin (65) untuk tetap berjualan mainan tradisional di sekaten kawasan alun-alun utara (Alut) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. “Saya sudah 10 tahun berjualan mainan gerabah keliling acara even wilayah Jateng,” ujar Suyatin saat ditemui di sela kesibukannya melayani pembeli, Minggu (27/10).

Gerabah mainan yang dijual, kata dia, ukuran dan harganya bervariatif mulai dari Rp 2.000 untuk model gelas dan piring gerabah, sampai Rp 30.000 untuk celengan tanah liat ukuran sedang. “Saya jualan di sekaten sekitar setengah bulan mulai 20 Oktober ini sampai 12 November. Sewa lapaknya Rp 500.000,” jelas dia.

Selama di Solo, Suyatin mengaku ditemani suaminya, Ramadi (70) yang juga membuka lapak serupa tak jauh dari lokasi lapaknya. Seiring berjalannya waktu, kata dia, pembeli mainan gerabah mini memang tidak seramai dulu.

“Ya gempuran gadget salah satu penyebabnya. Meskipun demikian masih ada warga yang mengemari mainan gerabah. Sebagian ada yang membeli mainan ini untuk sekedar bernostalgia,” kata dia.

Hal serupa diungkapkan, Muhairil (83). Ia mengaku berjualan mainan gerabah di sekaten sejak tahun 70-an. Ia juga merasakan adanya penurunan pembeli mainan tradisional akhir-akhir tahun ini.

“Saya tetap berjualan mainan gerabah meskipun tidak seramai dulu. Lebih khawatir lagi mainan tradisional ini hilang di pasaran akibat gempuran game online di ponsel” tutur dia. (her)

Oleh: Kabiro Surakarta

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Kabiro Surakarta
Jurnalis Terverifikasi Kepala Biro Solo Raya & Surakarta

Kabiro Surakarta

Pewarta isu sosial kemasyarakatan, budaya keraton, dan pemerintahan Solo Raya.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
7 + 4 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi