(foto ilustrasi)
INFODESANEWS — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berkembang. Aturan, mekanisme dan petunjuk pelaksanaannya pun terus mengalami penyesuaian. Di tengah dinamika tersebut, pro dan kontra di masyarakat tak bisa diabaikan.
MBG pada dasarnya merupakan program yang memiliki tujuan mulia: memastikan anak-anak mendapatkan asupan makanan bergizi, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Namun, tujuan baik tetap membutuhkan pengawasan dan perhitungan yang matang.
Jangan sampai rakyat miskin dan kurang mampu hanya dijadikan tameng setiap kali muncul kritik terhadap pelaksanaan maupun kebijakan anggaran MBG.
Kritik terhadap program bukan berarti menolak hak rakyat mendapatkan makanan bergizi. Justru sebaliknya, kritik diperlukan agar program yang menggunakan sumber daya negara tersebut benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata.
Jangan Korbankan Pendidikan dan Kesehatan
Di tengah tuntutan pembiayaan MBG, pemerintah juga harus memastikan sektor pendidikan dan kesehatan tetap menjadi prioritas.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan bergizi. Mereka juga membutuhkan sekolah yang layak, guru yang memadai, fasilitas pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan, obat-obatan serta akses terhadap layanan dasar.
Gizi penting, tetapi pendidikan dan kesehatan juga merupakan fondasi masa depan generasi bangsa.
Karena itu, jangan sampai pembangunan ruang kelas tertunda, fasilitas kesehatan terbengkalai atau pelayanan dasar masyarakat tertekan hanya karena prioritas anggaran bergeser tanpa perhitungan yang matang.
Jika anggaran terbatas, maka pemerintah dituntut semakin cermat menentukan prioritas, melakukan efisiensi dan memastikan setiap rupiah benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Aturan Boleh Berkembang, Pengawasan Jangan Kendor
Perubahan aturan dalam pelaksanaan MBG harus diikuti dengan sosialisasi dan evaluasi yang jelas. Jangan sampai pelaksana di lapangan justru kebingungan karena regulasi berubah lebih cepat daripada kemampuan mereka beradaptasi.
Publik juga berhak mengetahui bagaimana standar gizi ditentukan, bagaimana kualitas makanan diawasi, bagaimana distribusi dilakukan dan bagaimana persoalan di lapangan ditindaklanjuti.
Sebab, semakin besar sebuah program, semakin besar pula tuntutan transparansi dan akuntabilitasnya.
MBG bukan program yang harus kebal kritik.
Justru karena membawa nama dan kepentingan rakyat kecil, maka pelaksanaannya harus semakin terbuka terhadap kritik.
Rakyat Butuh Lebih dari Sekadar Slogan
Rakyat miskin tidak membutuhkan slogan bahwa pemerintah berpihak kepada mereka. Mereka membutuhkan manfaat yang benar-benar dirasakan.
Anak-anak membutuhkan makanan bergizi, tetapi mereka juga membutuhkan pendidikan yang berkualitas dan layanan kesehatan yang mudah diakses.
Karena itu, MBG boleh jalan, tetapi pendidikan dan kesehatan jangan tumbang.
Jangan sampai atas nama memperjuangkan rakyat miskin, justru sektor dasar yang menentukan masa depan mereka dikorbankan.
Pada akhirnya, keberhasilan MBG bukan hanya diukur dari berapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi dari seberapa besar program tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat tanpa mengorbankan kebutuhan dasar lainnya.
Rakyat kecil jangan dijadikan tameng. Pendidikan jangan dianaktirikan. Kesehatan jangan dipinggirkan. Dan anggaran publik harus benar-benar kembali kepada kepentingan rakyat.
OPINI
Penulis: Redaksi Infodesanews