LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS – Pesan moral tentang tanggung jawab manusia menjaga bumi menggema dari mimbar khutbah Jumat di Masjid Nurul Huda, Kecamatan Merbau Mataram, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (06/03/2026).
Khutbah tersebut disampaikan oleh tokoh masyarakat yang juga Anggota DPRD Lampung Selatan dari Fraksi Gerindra, Dwi Riyanto, yang akrab disapa warga sebagai Konco Yasinan.
Dalam khutbahnya, Dwi mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 yang menceritakan dialog antara Allah dan para malaikat ketika manusia hendak diciptakan sebagai khalifah di muka bumi.
Ia menjelaskan bahwa malaikat sempat bertanya kepada Allah mengenai tujuan penciptaan manusia, karena dikhawatirkan manusia akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah di bumi.
“Para malaikat bertanya, mengapa diciptakan makhluk yang bisa membuat kerusakan dan menumpahkan darah, sementara malaikat senantiasa bertasbih dan memuji Allah. Namun Allah menjawab, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’,” ujar Dwi di hadapan jamaah.
Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki amanah besar sebagai khalifah di bumi, yakni menjaga, merawat, dan mengelola kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
“Khalifah itu berarti penjaga, perawat, dan pengamat kehidupan. Maka hubungan kita dengan sesama manusia maupun dengan makhluk Allah yang lain harus dilandasi sikap saling menjaga dan merawat,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan pesan tersebut dengan kondisi dunia saat ini yang tengah dilanda berbagai konflik antarnegara. Menurutnya, berbagai peperangan yang terjadi menjadi pengingat agar manusia kembali kepada nilai kemanusiaan dan kedekatan kepada Tuhan.
Dwi menilai bahwa kedamaian dunia sangat dipengaruhi oleh kualitas moral dan spiritual para pemimpin negara.
“Kalau pemimpin memiliki kedekatan kepada Tuhan, maka akan tumbuh rasa kasih sayang dan memandang manusia lain sebagai sesama makhluk yang harus dijaga. Tetapi jika kekuasaan dijalankan tanpa nilai kemanusiaan, dunia bisa dianggap seperti permainan,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan nyata tidak boleh dipandang seperti permainan yang mengabaikan nilai kemanusiaan, di mana peperangan dianggap sekadar strategi tanpa memikirkan dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk terus memanjatkan doa agar konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia segera berakhir dan digantikan dengan perdamaian.
“Marilah kita bersama-sama berdoa agar konflik yang terjadi di dunia segera selesai dan digantikan dengan perdamaian antarnegara,” tuturnya.
Selain doa, Dwi juga kembali mengingatkan masyarakat desa untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan menghadapi berbagai kemungkinan dampak situasi global, termasuk dalam hal ketahanan pangan.
Dari mimbar sederhana di desa, pesan khutbah itu menegaskan satu hal: manusia diciptakan bukan untuk saling menghancurkan, melainkan untuk menjaga bumi dan merawat kehidupan. (red)