Senin, 9 November 2026
TERKINI
• Luwes Orange Run Meriahkan HUT ke-59 Luwes Grup di Blora (13 jam yang lalu) • Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (1 hari yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (1 hari yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (2 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (2 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (2 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (2 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (2 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (2 hari yang lalu)
INFODESA 16 Agustus 2026, 11:31 WIB 1,097 PDF

Merdeka yang Sesungguhnya Milik Siapa?

Redaktur Lampung
Oleh: Redaktur Lampung • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Merdeka yang Sesungguhnya Milik Siapa?
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaktur Lampung

OPINI
INFODESANEWS — Merah Putih kembali berkibar. Lagu kebangsaan kembali menggema. Jalan-jalan dihiasi umbul-umbul, perlombaan rakyat digelar, dan berbagai seremoni disiapkan untuk menyambut 81 tahun Indonesia merdeka.

Namun di tengah gegap gempita itu, ada satu pertanyaan yang rasanya tidak boleh kita bungkam:

Merdeka yang sesungguhnya milik siapa?

Pemerintah menetapkan tema HUT ke-81 RI tahun 2026, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tema itu terdengar begitu indah. Tetapi kata adil dan makmur bukan sekadar rangkaian kalimat di spanduk. Keduanya harus bisa dirasakan sampai ke rumah-rumah rakyat paling kecil.

Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan.

Kemerdekaan seharusnya berarti rakyat tidak lagi merasa menjadi orang asing di tanah kelahirannya sendiri. Petani bisa hidup dari hasil sawah dan kebunnya. Nelayan mampu membawa pulang penghasilan yang layak. Buruh memperoleh upah yang manusiawi. Pedagang kecil tidak terus-menerus dihantui biaya hidup yang semakin tinggi.

Kemerdekaan juga berarti anak-anak rakyat kecil mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Orang sakit tidak harus berpikir berkali-kali karena biaya pengobatan. Infrastruktur dasar tidak hanya bagus di pusat kota, tetapi juga hadir di pelosok desa.

Lalu, apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Pertanyaan ini tentu bukan untuk menafikan berbagai capaian bangsa. Indonesia telah berjalan sangat jauh sejak 17 Agustus 1945. Tetapi usia 81 tahun juga seharusnya menjadi momentum untuk bercermin, bukan sekadar berpesta.

Jangan sampai kemerdekaan hanya terasa ketika bendera dikibarkan, tetapi hilang ketika rakyat berhadapan dengan ketidakadilan.

Jangan sampai rakyat hanya dibutuhkan ketika pesta demokrasi berlangsung, lalu suaranya kembali tenggelam setelah kursi kekuasaan terisi.

Jangan sampai kemiskinan menjadi angka statistik, sementara manusia yang mengalaminya harus berjuang sendirian menghadapi kehidupan.

Dan jangan sampai pembangunan hanya diukur dari berapa banyak proyek yang berdiri, tanpa bertanya apakah manfaatnya benar-benar sampai kepada rakyat.

Merdeka bukan berarti rakyat harus diam.

Justru di negara yang merdeka, rakyat memiliki hak untuk bertanya, mengkritik, mengawasi dan menuntut pemerintah bekerja sesuai amanat konstitusi.

Kritik bukan pengkhianatan.

Pertanyaan bukan pembangkangan.

Mengawasi anggaran bukan permusuhan.

Menuntut keadilan bukan berarti anti-pemerintah.

Sebaliknya, suara rakyat adalah bagian dari cara menjaga agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol.

Karena sesungguhnya negara ini bukan milik segelintir orang. Republik ini bukan milik pejabat, bukan milik partai politik, bukan milik pengusaha, dan bukan pula milik mereka yang kebetulan sedang memegang kekuasaan.

Republik ini milik rakyat.

Maka ketika ada rakyat yang masih kesulitan mendapatkan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, pangan, rumah layak, air bersih dan infrastruktur dasar, negara tidak boleh merasa sudah selesai hanya karena pembangunan terlihat megah dari kejauhan.

Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika rakyat kecil mampu berdiri tegak tanpa harus memohon belas kasihan.

Ketika hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Ketika kesempatan tidak hanya terbuka bagi mereka yang punya modal dan koneksi.

Ketika kebijakan publik benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.

Ketika kekuasaan digunakan untuk melayani, bukan dilayani.

81 tahun Indonesia merdeka seharusnya bukan hanya menjadi perayaan tentang masa lalu, tetapi pertanyaan tentang masa depan.

Apa yang sudah kita berikan kepada rakyat?

Apa yang masih menjadi utang negara?

Dan yang paling penting:

Apakah rakyat kecil sudah benar-benar merasakan kemerdekaan itu?

Jika jawabannya belum, maka perjuangan belum selesai.

Sebab kemerdekaan bukan sekadar tanggal 17 Agustus.

Kemerdekaan adalah proses panjang untuk memastikan setiap warga negara mendapatkan haknya sebagai manusia dan sebagai rakyat Indonesia.

Merdeka untuk siapa?

Jawabannya seharusnya sederhana:

Merdeka untuk semua. Bukan hanya untuk mereka yang berkuasa.

Redaksi Infodesanews

Oleh: Redaktur Lampung

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Redaktur Lampung
Jurnalis Terverifikasi Redaktur Wilayah Lampung

Redaktur Lampung

Pengelola rubrik liputan daerah Lampung, dinamika desa, dan pembangunan nusantara.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
2 + 7 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi