BOYOLALI– INFODESANEWS.COM ||Ribuan warga dari berbagai daerah memadati Alun-alun Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (7/8/2026) sore. Warga bersemangat mengikuti tradisi Sebaran Kue Apem Keong Emas dengan memperebutkan lebih dari 30.000 kue apem kukus.
Pantauan awak media, tradisi tahunan tersebut berlangsung meriah. Warga terlihat rela berdesak-desakan dan berebut kue apem yang dipercaya membawa berkah bagi siapa pun yang mendapatkannya.

Sebaran Kue Apem Keong Emas merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen padi yang melimpah dan terbebas dari serangan hama. Tradisi ini juga menjadi ungkapan syukur atas ketersediaan sumber air yang masih melimpah meski wilayah tersebut telah memasuki musim kemarau.
Selum prosesi sebaran dimulai, rangkaian kegiatan diawali dengan kirab dari Kantor Kecamatan Banyudono menuju Alun-AlunPengging sejauh sekitar satu kilometer.
Kirab tersebut diikuti barisan pembawa bendera Merah Putih, pasukan Keraton Kasunanan Surakarta, pasukan pembawa pusaka tombak, hingga gunungan. Dua gunungan utama yang berisi kue apem Keong Emas memiliki tinggi sekitar 4 meter.
Kirab juga dimeriahkan iring-iringan kereta kuda yang ditumpangi Bupati Boyolali Agus Irawan dan Wakil Bupati Boyolali Dwi Fajar Nirwana. Ribuan warga memadati sepanjang jalan untuk menyaksikan prosesi tradisi tahunan tersebut.
Setibanya di Alun-Alun Pengging, gunungan kue apem terlebih dahulu didoakan. Setelah itu, gunungan dibawa ke atas panggung untuk kemudian disebarkan kepada ribuan warga yang telah menunggu sejak siang.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Boyolali Candra Irawan mengatakan, tradisi Apem Keong Emas memiliki sejarah panjang dan berkaitan dengan upaya masyarakat mengatasi serangan hama keong pada tanaman padi.
“Awal mula tradisi ini pada zaman Yosodipuro. Desa Banyudono pernah dilanda pageblug, ketika tanaman padi milik warga diserang hama keong,” kata Candra kepada awak media, Jumat (7/8/2026) di lokasi.
Menurut Candra, pada masa itu masyarakat mendapat arahan dari raja Keraton Surakarta Pakubuwono untuk mengambil keong yang menyerang tanaman padi, kemudian mengolahnya untuk dimasak.
Setelah upaya tersebut dilakukan, serangan hama terhadap tanaman padi disebut tidak lagi terjadi. Peristiwa itu kemudian menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang dilaksanakan setiap tahun hingga sekarang.
Kini, tradisi Sebaran Kue Apem Keong Emas tidak hanya menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat, tetapi juga salah satu daya tarik budaya dan wisata di wilayah Pengging, Boyolali. (*/Agung/Her/Redslo)