Sabtu, 3 Oktober 2026
TERKINI
• Pelajaran Berharga Rocky Gerung Itu Bernama 'Realitas' (1 jam yang lalu) • Meriahkan HUT TNI, Kodim 0906/Kkr Gelar Turnamen Sepak Bola Bagi Pelajar (4 jam yang lalu) • Plat Besi Bikin Curiga,Polisi Temukan 27 Kilogram Sabu Di Innova (17 jam yang lalu) • Laporan Seno Aji:OMBUDSMAN Periksa Ulin Nuha Kepala BPN Bandar Lampung (18 jam yang lalu) • Musrenbangdes Di Desa Marga Agung Tahun 2027 Fokus Pada Infrastruktur Dan Pertanian (18 jam yang lalu) • Musrenbangdes Tahun 2027 Desa Marga Kaya Ikuti RPJMDes (19 jam yang lalu) • Musrenbangdes Desa Gedung Harapan Tahun 2027 Fokus Pembangunan Jalan Lingkungan (19 jam yang lalu) • Pemkab Lamsel Buka Akses Dokumentasi Kegiatan, Tinggal Scan QR Code Bisa Unduh Gratis (21 jam yang lalu) • Kementerian Kehutanan Dorong Pengelolaan Perhutanan Sosial Berkualitas di Blora (22 jam yang lalu) • Pemkab Blora Akan Undang Kementerian PU Bahas Progres Bendungan Cabean dan Karangnongko (22 jam yang lalu)
OPINI Nasional 03 Oktober 2026, 18:08 WIB 13 PDF

Pelajaran Berharga Rocky Gerung Itu Bernama 'Realitas'

Herki Mahendra
Oleh: Herki Mahendra • ~2 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Pelajaran Berharga Rocky Gerung Itu Bernama 'Realitas'
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Herki Mahendra

MELIHAT sosok yang dulunya begitu vokal menyuarakan kebenaran mendadak berada di barisan kekuasaan memang sering kali memicu kekecewaan mendalam. Rasa kaget itu sebenarnya wajar terjadi ketika ekspektasi moral kita gantungkan terlalu tinggi pada seorang manusia. Niccolo Machiavelli pernah menegaskan bahwa seorang pemimpin atau tokoh politik sering kali harus bertindak bertentangan dengan iman, kemanusiaan, dan kebaikan demi mempertahankan posisinya.

Dunia politik pada dasarnya berjalan di atas roda kepentingan yang dinamis dan sangat pragmatis. Tidak ada lawan abadi dan tidak ada kawan sejati, sebab pergerakan mereka selalu bermuara pada arah angin kepentingan yang sama. Ketika sebuah tawaran posisi mampu menyelaraskan kepentingan pribadi mereka, prinsip yang selama ini digaungkan bisa bergeser dalam sekejap mata.

Realitas ini mengajarkan kita untuk tidak pernah mengkultuskan siapa pun secara berlebihan dalam ruang publik. Menaruh kepercayaan tanpa celah hanya akan membuka pintu menuju rasa kecewa yang berulang kali terjadi dalam sejarah humanitas. Aristoteles bahkan pernah berpesan bahwa kita harus lebih mencintai kebenaran daripada mencintai sahabat atau idola kita sendiri agar pikiran tetap jernih.

Setiap kemungkinan selalu terbuka lebar, termasuk melihat figur populer idola masyarakat bertransformasi menjadi bagian dari sistem kekuasaan. Kesadaran ini bukan ajakan untuk menjadi pribadi yang pesimis, melainkan panggilan untuk menjadi pemikir yang lebih dewasa. Kita perlu terus mengasah akal sehat, memelihara daya kritis, dan menjadikan belajar sebagai proses sepanjang hayat agar tidak mudah terpedaya ilusi. (*)

Penulis Opini : Herki Mahendra (Jurnalis / Redaktur Surakarta)


Oleh: Herki Mahendra Editor: Herki Mahendra

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #OPINI #Nasional ##realitaspolitik
Herki Mahendra
Jurnalis Terverifikasi Penanggung Jawab Redaktur / Redaksi Surakarta

Herki Mahendra

Pernah Aktif Menulis di Jawa Pos Radar Solo, Harian Meteor Semarang, Redaktur Pelaksana Majalah Pendidikan Solo dan aktif menulis di beberapa media online nasional. MOTTO : Ubahlah Dunia dan Peradaban Lewat Karya Jurnalistik

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
5 + 5 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi