BLORA, INFODESANEWS – Petani tebu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, melakukan audiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Blora untuk memprotes keputusan PT Gendhis Multi Manis (GMM) yang menghentikan musim giling lebih cepat dari jadwal. Penghentian ini dinilai merugikan petani karena masih banyak tanaman tebu yang belum dipanen.
Ketua DPRD Blora, Mustopa, menyatakan bahwa pihaknya sedang mencari win-win solution untuk mengakomodir keresahan petani.
“Untuk sementara, PT GMM telah berkomitmen untuk berkomunikasi dengan PG Teranggil agar tebu petani Blora dapat disetor ke pabrik tersebut sebagai solusi jangka pendek,” ujarnya usai audensi, Rabu (18/9/2025).
Lebih lanjut, Mustofa menyebut bahwa DPRD akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Direktorat Jenderal Perkebunan untuk mencari solusi berkelanjutan, termasuk standarisasi harga tebu antar pabrik guna mencegah kecemburuan sosial di kalangan petani.
DPRD Blora akan terus memantau perkembangan dan mendorong solusi permanen, baik melalui koordinasi dengan pemerintah pusat maupun negosiasi dengan manajemen PT GMM, untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang dan melindungi kepentingan petani tebu lokal.
Sementara itu, Plt. Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, menjelaskan bahwa penghentian musim giling dipicu oleh kerusakan pada boiler yang membutuhkan perbaikan mendalam.
“Kami berharap bisa buka lagi. Namun, untuk perbaikan boiler seperti yang dilakukan awal giling membutuhkan waktu 3-4 minggu. Sayangnya, pada saat perbaikan selesai, masa panen tebu di Blora sudah terlambat untuk diserap oleh kami,” jelas Emilia.
Dia mengungkapkan, dari 16 hektare lahan tebu mitra GMM, seluruhnya sudah diserap. GMM juga telah mengupayakan agar hasil panen petani yang belum terserap dapat dialihkan ke PG lain.
Terkait akar masalah, Emilia mengaku bahwa perusahaan pernah mengajukan proposal pembelian boiler baru senilai sekitar Rp 200 miliar kepada pemegang saham untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan mesin. Namun, proposal tersebut belum disetujui karena tingginya biaya.
Kondisi ini diperparah oleh kondisi keuangan perusahaan. Hingga Agustus 2024, PT GMM mencatat kerugian sebesar Rp 134 miliar.
“Tahun sebelumnya, kerugian perusahaan mencapai Rp 63 miliar. Perusahaan juga masih menanggung hutang kepada pihak lain yang diperpanjang masa pelunasannya hingga 15 tahun ke depan,” ucapnya.
Lanjutnya, selama masa penghentian ini, GMM memfokuskan diri pada pemeriksaan boiler dan memfasilitasi petani dengan membantu memindahkan tebu dari truk kecil menggunakan mesin perusahaan.**Red