LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS – Memasuki bulan Syakban atau Ruwah 1447 Hijriah, masyarakat Dusun Girijaya 1, Desa Triharjo, Kecamatan Merbau Mataram, kembali melaksanakan tradisi ruwahan dengan berkirim doa untuk para leluhur yang telah meninggal dunia.
Tradisi berkirim doa ini dilakukan secara bergiliran dari rumah ke rumah, sesuai dengan kesepakatan dan undangan warga. Selain sarat nilai religius, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi serta menjaga kebersamaan antarwarga.
Sebagai pembuka rangkaian ruwahan tahun ini, kegiatan dilaksanakan di kediaman anggota DPRD Lampung Selatan dari Fraksi Partai Gerindra, Dwi Riyanto, pada Selasa (20/01/2026).
Acara ruwahan dilakukan dengan berkirim doa melalui fadhilah Yasin dan tahlil, yang dihadiri Kepala Dusun Girijaya 1, tokoh agama, tokoh masyarakat, warga setempat, serta aparatur desa yang berdomisili di dusun tersebut.
Usai pembacaan Yasin, tahlilan, doa bersama, dan makan malam bersama, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan persiapan penyelenggaraan acara Nyadran yang akan digelar menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi nyadran tersebut ditandai dengan ziarah kubur secara bersama-sama di Makamsari Dusun Girijaya 1.
Dalam forum pembahasan tersebut, Dwi Riyanto yang dikenal warga dengan julukan “konco yasinan” menyampaikan usulan agar pelaksanaan nyadran dikemas dengan nuansa kebudayaan. Usulan tersebut mendapat sambutan positif dan disepakati seluruh pihak yang hadir.
Acara nyadran dijadwalkan akan dilaksanakan di Makamsari Dusun Girijaya 1, Desa Triharjo, pada Minggu (08/02/2026), bertepatan dengan 20 Ruwah 1447 Hijriah.
Pelaksanaannya akan mengedepankan nilai-nilai budaya Nusantara sebagai bagian dari upaya merawat warisan leluhur.
Dalam pelaksanaannya nanti, panitia maupun undangan yang hadir direncanakan mengenakan pakaian adat atau busana yang mencerminkan suku dan daerah masing-masing. Rangkaian acara pun akan dikemas dalam nuansa budaya, diawali dengan kegiatan besik, yakni gotong royong membersihkan area makam, yang akan dilaksanakan dua hari sebelum puncak acara nyadran.
Dwi Riyanto menegaskan bahwa nyadran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana memperkuat jati diri dan persatuan masyarakat desa.
“Nyadran adalah warisan leluhur yang sarat makna religius, sosial, dan budaya. Jika dikemas dengan nilai kebudayaan, tradisi ini akan tetap hidup dan menjadi ruang edukasi bagi generasi muda,” tegasnya.
Tak hanya itu, rangkaian acara juga disusun dengan nuansa budaya lokal, dimulai dari atur pambagyaharja sebagai sambutan panitia, tanggap wacana untuk sambutan tokoh masyarakat, ujub pandonga slametan sebagai doa untuk para ahli kubur, kirab tumpeng lan kembul bujana dalam prosesi makan bersama, serta ular-ular sebagai pengisian tausiyah atau ceramah.
Sebelum puncak acara, masyarakat juga akan melaksanakan kegiatan besik, yakni gotong royong membersihkan area makam, yang dijadwalkan dua hari sebelum pelaksanaan nyadran.
Ia berharap, pelaksanaan nyadran bernuansa budaya ini dapat menjadi contoh pelestarian kearifan lokal yang sejalan dengan nilai gotong royong dan kebersamaan masyarakat desa. (red)