Jumat, 25 September 2026
TERKINI
• 17 Desa Wilayah Lamsel Bakal Mengikuti Penilaian Desa Antikorupsi Tingkat Provinsi (1 jam yang lalu) • Kodim 0721/Blora dan BAZNAS Bedah Dua Rumah Warga Sambut HUT ke-81 TNI (4 jam yang lalu) • Fly Jaya Buka Rute Penerbangan Reguler Masamba-Makassar Segera Mengudara (5 jam yang lalu) • Ketum LAFKI dr Benny, Dorong RS Elim Rantepao Dikembangkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan (5 jam yang lalu) • SDN 1 Plosarjo Terima Bantuan Revitalisasi, Kelas Rusak Kini Siap Jadi Ruang Belajar Nyaman (5 jam yang lalu) • Perkuat Kelembagaan dan Kolaborasi, PWI Sulsel Silaturahmi ke Bank Mandiri (6 jam yang lalu) • Dua Bulan Hampir Berlalu, RDP Limbah PT Ciomas Belum Terwujud, Ada Apa? (20 jam yang lalu) • Geothermal Rajabasa Ditolak Masyarakat, DPRD Siap Teruskan Aspirasi hingga ke Pemerintah Berwenang (1 hari yang lalu) • Bupati Banyumas Dukung GreenMu, Dorong Pengelolaan Sampah Bernilai Ekonomi (1 hari yang lalu) • Ilusa Berbagi, Salurkan 148 Tangki Air Bersih untuk Warga Blora (1 hari yang lalu)
INFODESA 22 Mei 2018, 15:00 WIB 580 kali dibaca ~3 mnt baca Bukti Tayang (PDF)

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Penulis: Redaksi
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaksi

Semarang, Infodesanews.com – Santri dalam sejarahnya memiliki peran penting bagi terbentuknya NKRI. Catatan prestasi santri dalam mempertahankan kemerdekaan mendapatkan apresiasi dari Presiden Joko Widodo yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Meski hari besar nasional, tanggal tersebut tidak terhitung sebagai hari libur atau tanggal merah, keputusan itu dituangkan lewat Keputusan Presiden (Keppres) No 22 Tahun 2015. Hal ini ditegaskan dalam Sarasehan Jurnalistik Ramadhan yang digelar di Gedung Prof. Satmoko LP3 Universitas Negeri Semarang, jalan sekaran Gunungpati Kota Semarang, Senin (21/5). Gerakan Santri Menulis sebagai upaya melawan paham radikalisme.

Ketua FKPT Jateng, Dr. Drs. H. Budiyanto, SH, MHum mengungkapkan, para pendiri bangsa ini telah sepakat dengan bentuk dan asas Negara Indonesia. Spirit nasionalisme diwujudkan pula dengan adanya jargon hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari Iman). Jargon ini, hanya ada di Indonesia sebagai manifestasi hubungan antara Agama dengan Negara yang diambil dari Islam periode Madinah. Keutuhan Negara ini diuji sejak adanya berbagai bahaya laten. Di antaranya DI/TII, PRRI/Permesta, PKI dan yang bentuk terbaru saat ini Radikalisme-Terorisme.

Budiyanto menerangkan, Radikalisme ini bergerak dengan klaim kebenaran beragama. Gejalanya tampak dari adanya klaim diri dan kelompoknya yang paling benar dan sesuai dengan Agama, bahkan sering bergerak dan menghakimi mereka yang dipandang berbeda paham sebagai golongan yang salah atau sesat. Gerakan radikalis-teroris ini sebenarnya bentukan Amerika dalam perang melawan Uni Soviet. Amerika membentuk milisi dengan merekrut pemuda Islam dari berbagai negara untuk berperang atasnama jihad di Afganistan.

Lebih lanjut, Budiyanto menyatakan peran santri sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin tingginya minat belajar Agama dari semua kalangan. Dikatakan, radikalisme banyak berkembang melalui tulisan, untuk itu, produktifitas santri dalam menulis akan mewarnai dan menjadi sebuah usaha kongkrit dalam deradikalisasi Agama. Sebab, banyaknya tulisan dan live streaming radikalis yang beredar telah meracuni masyarakat. Terbukti dari pelaku bom di Surabaya, pelaku tidak pernah bertemu dengan Aman Abdurrahman, orang yang disinyalir sebagai pimpinan Jamiyyah Ansharud Daulah (JAD) sebagai ISIS-nya Indonesia.

Sementara, Walikota Semarang H. Hendrar Prihadi, SE, MM mengatakan Gerakan Santri Menulis, Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2018 mempunyai tantangan baru, yakni dengan fokus menyikapi kemajuan teknologi informasi dengan berkembangnya media sosial.

Walikota Semarang yang akrab disapa Hendi itu pun menjelaskan, sekarang siapa saja bisa menulis dan dikirimkan atau diunggah di media sosial ataupun media online. Sehingga tulisan ini tidak melalui proses editing, dan langsung bisa dibaca dan dibagikan oleh orang banyak.

“Ini bisa berbahaya jika penulisnya tidak dibekali dengan kemampuan menulis yang baik serta mencari kebenaran informasi tesebut, atau bahkan tidak dilengkapi komitmen menjaga kesatuan NKRI,” kata Hendi menegaskan.

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Iklan Penulis & Sponsor Space Iklan Disewakan - Hubungi Redaksi

Rekomendasi Shopee Pilihan Redaksi

Diskon Spesial
Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Redaksi Infodesanews

Redaksi Infodesanews

Redaksi Pelaksana & Admin

Dewan Redaksi Pusat INFODESANEWS Bersama Membangun Indonesia.

Redaksi Wilayah • Terverifikasi Kominfo 593

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
3 + 1 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi