Senin, 9 November 2026
TERKINI
• Luwes Orange Run Meriahkan HUT ke-59 Luwes Grup di Blora (18 jam yang lalu) • Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (1 hari yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (1 hari yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (2 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (2 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (2 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (2 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (2 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (2 hari yang lalu)
PERISTIWA 22 Oktober 2025, 23:36 WIB 1,525 PDF

Warga Hantipan Geram, Kepala Desa Dituding Tak Transparan dalam Pembangunan

Kabiro Blora
Oleh: Kabiro Blora • ~2 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Warga Hantipan Geram, Kepala Desa Dituding Tak Transparan dalam Pembangunan
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Kabiro Blora

SAMPIT, INFODESANEWS – Suasana memanas mewarnai musyawarah desa yang digelar di Balai Pertemuan Desa Hantipan, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Senin (20/10/2025).
Pertemuan yang diprakarsai oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) itu awalnya dijadwalkan untuk membahas klarifikasi Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) dan melakukan evaluasi program kerja desa. Namun, suasana berubah menjadi forum ungkapan kekecewaan warga terhadap Kepala Desa Hantipan, H. Musmuliadi.

Ketegangan dipicu oleh keterlambatan kepala desa yang datang jauh di luar jadwal. Warga yang sudah hadir sejak pukul 09.00 WIB merasa tidak dihargai. Menurut mereka, keterlambatan ini bukan hal sepele, melainkan puncak dari rasa kecewa terhadap sikap kepala desa yang dinilai kurang transparan dan tidak responsif terhadap aspirasi masyarakat.

“Ini sudah tiga kali kami meminta musyawarah. Pertama alasan sakit, kedua katanya ada rapat, dan sekarang datang pun terlambat. Padahal undangan resmi dari BPD sudah disampaikan,” ujar Yono, salah satu warga dengan nada kecewa.

Warga menilai, sikap kepala desa yang sering mengabaikan undangan resmi mencerminkan kurangnya komitmen terhadap transparansi dan tanggung jawab publik. Mereka mengaku tidak mendapatkan penjelasan yang terbuka mengenai pelaksanaan berbagai proyek pembangunan desa.
Sejumlah warga bahkan menuntut agar Inspektorat turun tangan untuk melakukan audit terhadap penggunaan anggaran dan proyek pembangunan.

“Kami tidak berniat menjatuhkan kepala desa, kami hanya ingin kejelasan. Contohnya proyek pembangunan jembatan dengan anggaran sekitar Rp62 juta, sampai sekarang belum jelas hasilnya,” ungkap seorang warga lainnya.
“Begitu juga proyek sarana air bersih tahun 2021 yang menelan dana ratusan juta rupiah — baru difungsikan setelah warga menuntut,” tambahnya.

Dalam musyawarah tersebut, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) turut hadir dan berupaya menenangkan warga agar rapat tetap berlangsung kondusif. Namun, situasi sempat memanas karena kepala desa datang terlambat dan sempat disebut tidak menerima undangan.
Pernyataan itu langsung dibantah oleh Ketua BPD, Musliana, yang menegaskan bahwa undangan telah diterima oleh kepala desa sebelumnya.

“Kalau seperti ini, tidak pantas jadi pemimpin kami. Kami sudah tidak percaya lagi. Kami minta Kepala Desa Hantipan mundur dari jabatannya!” teriak sejumlah warga dalam forum tersebut.

Menanggapi hal itu, Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kecamatan Pulau Hanaut, Zainal Abidin, menyayangkan sikap warga yang tidak memberikan kesempatan kepada kepala desa untuk memberikan penjelasan.

“Memang kepala desa datang tidak tepat waktu, tapi seharusnya tetap diberi kesempatan menyampaikan klarifikasi. Kalau warga ingin audit inspektorat dan meminta kepala desa mundur, itu hak mereka. Namun, ada mekanisme dan tahapan yang harus dilalui,” ujarnya.

Hingga musyawarah berakhir, belum ada kesimpulan final yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.(yns/Am)

Oleh: Kabiro Blora

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #PERISTIWA #infodesanews #kabarindonesia
Kabiro Blora
Jurnalis Terverifikasi Kepala Biro Blora

Kabiro Blora

Koordinator pewarta dan liputan wilayah Blora, Sesarengan mBangun Blora, Jawa Tengah.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
5 + 8 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi