LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS — Setiap pekan terakhir bulan Syakban, warga Desa Triharjo, Kecamatan Merbau Mataram, Kabupaten Lampung Selatan, kembali menggelar tradisi Nyadran. Tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi penanda kultural sekaligus spiritual masyarakat dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Bagi warga Triharjo, Nyadran bukan sekadar ziarah kubur, melainkan ruang kebersamaan yang menyatukan nilai adat, agama, dan kemanusiaan. Ziarah dilakukan secara bersama-sama pada waktu yang telah ditentukan, sebagai simbol persatuan, silaturahmi, serta pengingat kolektif tentang asal-usul dan keterbatasan hidup manusia.
Tokoh masyarakat Triharjo, Dwi Riyanto, menyebut Nyadran sebagai warisan budaya leluhur yang diyakini telah ada sejak masa Kerajaan Majapahit.
Seiring waktu, tradisi ini mengalami akulturasi dengan ajaran Islam, sehingga tetap lestari tanpa kehilangan nilai religius dan kearifan lokal yang menjadi ruh pelaksanaannya.
Rangkaian Nyadran diawali dengan Besik, yakni kegiatan gotong royong membersihkan area makam. Besik tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga kebersihan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur serta simbol kepedulian sosial antarsesama warga.
“Besik mengajarkan bahwa makam bukan tempat yang harus ditakuti, melainkan ruang untuk merenung, berdoa, dan mengingat akhir perjalanan hidup,” ujar Dwi Riyanto, yang juga merupakan anggota Fraksi Partai Gerindra di DPRD Lampung Selatan.
Sehari sebelum puncak Nyadran, pembagian peran dilakukan secara adat. Kaum laki-laki menyiapkan tarub, wadah makanan dari bambu, serta daun kelapa dan daun pisang. Sementara kaum perempuan memasak beragam sajian khas seperti tumpeng, ingkung ayam kampung, nasi uduk, apem, kolak ketan, dan hidangan tradisional lainnya.
Setiap sajian mengandung makna filosofis. Tumpeng melambangkan tujuan hidup manusia kepada Tuhan, ingkung ayam kampung mencerminkan kesederhanaan asal kehidupan, nasi uduk menggambarkan dinamika hidup, apem bermakna saling memaafkan, sementara kolak ketan melambangkan eratnya ikatan sosial yang harus dijaga bersama.
Puncak tradisi Nyadran ditandai dengan kirab tumpeng yang diusung para pemuda Karang Taruna Semud Bagus GRJ. Kirab ini menjadi simbol penghormatan terhadap rezeki serta ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Keunikan lain tampak dalam prosesi penyajian makanan. Para pemuda berjalan jongkok sambil membawa nampan dengan kedua tangan terangkat. Prosesi ini dimaknai sebagai simbol kesopanan, kerendahan hati, serta adab dalam memuliakan rezeki.
Dalam setiap pelaksanaan Nyadran, Dwi Riyanto—yang juga pernah menjabat sebagai Komisioner KPU Lampung Selatan selama dua periode—kerap dipercaya menyampaikan pitutur adat dan tausiyah. Pesan yang disampaikan berisi adab ziarah kubur serta hikmah kematian sebagai pengingat agar manusia senantiasa menjaga perilaku dan memperbaiki diri.
Bagi masyarakat Triharjo, Nyadran bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan identitas budaya. Sebuah kearifan lokal yang terus dirawat, mengajarkan nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta kesadaran akan perjalanan akhir manusia di tengah arus perubahan zaman.
Rangkaian Nyadran juga kian menarik untuk diikuti karena panitia dan warga yang hadir dianjurkan mengenakan pakaian tradisional. Anjuran ini bukan sekadar unsur estetika, melainkan simbol edukasi budaya bahwa perbedaan adalah bagian dari ketetapan Tuhan.
Melalui busana adat, warga diajak memahami bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, saling menghormati, dan hidup berdampingan dalam harmoni, sejalan dengan nilai adat dan kearifan lokal yang terus dijaga masyarakat Triharjo. (red)