Tokoh Budaya Bogor Rumuskan acuan Nga-Bogor

INFODESA40 Dilihat

 

Bogor, Infodesanews – Budayawan Bogor, Dalam rangka menghidupkan kembali Ruh Budaya Sunda di tengah-tengah masyarakat dan generasi muda. Rd. Ace Sumanta gagas pertemuan bulanan “Ngawangkong Budaya Kanggo Leumah Cai”. Pertemuan semacam itu sudah sering dilakukan oleh budayawan yang mendapatkan Original Record Indonesia (ORI) diterima di Bandung yang disaksikan Wakil Gubernur Jabar Dedy Mizwar dan Kepala Disparbud Jabar dan ratusan budayawan beberapa waktu lalu.
Orang yang giat dan kerap muncul dipublik ranah seni, budaya, literasi dan sosial kemasyarakatan ini tak mengenal kata cape, menyerah dan diam. “Saya menganggap mencerdaskan kehidupan bangsa melalui hal-hal yang positif adalah ibadah”, ujarnya disela acara budaya.
Begitu pula kegiatan yang melibatkan banyak tokoh budaya, akademisi, pustakawan, guru dan Sejarawan sangat istimewa. Keistimewaan tersebut, tak hanya dilaksanakan di Saung Budaya Raden Saleh (Komplek makam Raden Saleh Syarif Bustaman) di wilayah Empang Kota Bogor. Sabtu, (25/11/2017) juga turut hadir dan memberikan apresiasi Kepala Disdik Kota Bogor, H. Fahrudin (Fahmy).
Fahmy sebutan akrabnya sengaja meluangkan waktu setelah upacara Hari Guru, 25 November 2017 karena dirasa sangat bagus dan tepat yang dibahas adalah pendidikan karakter.Tentu saja Fahrudin mengatakan, “Sekolah diwajibkan melaksanakan kegiatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal,” katanya yang masih lengkap berseragam PGRI.
Lebih lanjut Fahrudin mengatakan, Selain mengacu pada UU Sisdiknas, no. 20/2003, juga Permendikbud no. 79/2014 tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013. Bahkan Disdik Kota Bogor jauh lebih maju dan sudah ada Peraturan Walikota Bogor no. 31/2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter Ngabogor pada Satuan Pendidikan Kota Bogor. Perwali itu sebagai dasar hukum atau regulasi bagi penyelenggara sekolah sekolah khususnya di Kota Bogor.
Tentu saja, garis besar yang dituangkan bisa menghasilkan kualitas siswa-siswi, perubahan prilaku, kearifan lokal dan cerdas sebagai program Arena Juara (Aman, Religius, Nasional, Amanah dan Jujur, Unggul, Ramah juga Agamis),” jelasnya.
Dasar-dasar pokok itu dituangkan dalam Perwali untuk mempermudah dalam penerapan di sekolah. Dengan demikian Nga-Bogor dapat diimplementasikan dalam sehari-harinya dengan istilah : NgaBogor Bodas (Habluminallah), NgaBogor Bulao (Habluminanas), dan NgaBogor hejo (Hablumirrobilalamin).
“Selaras dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal yakni Asih, Asah dan Asuh yang tentu saja hasilnya sangat positif dan selalu mawas diri, berusaha untuk berbuat baik dan selalu ingin prestasi untuk keberkahan”, bebernya yang disambut dengan tepuk tangan hadirin.
Dedy Roamer, menganjurkan dalam diskusi budaya ini tentang definisi Nga- Bogor agar seragam dalam membuat acuan atau kisi-kisi kurikulum.
Dari input-output pertemuan itu akan diwujudkan lebih lanjut pada pembentukan tim penulis buku panduan. Oleh karena itu, baik guru, murid atau siapapun yang ingin lebih tahu di dalamnya bisa mengacu pada buku tersebut. Ketua penggagas yang juga penyair Ace Sumanta tidak akan menyia-nyiakan waktu yang telah ada respon dari Kepala Disdik kota Bogor itu.
Lebih lanjut akan dibentuk tim khusus yang tentu saja hasilnya diseminarkan dan buku dibagikan untuk seluruh sekolah maupun untuk perpustakaan. Hadir tokoh seperti Rahmat Iskandar Sejarawan, Rd. Tb. Kimas Tanudjiwa keturunan pendiri Bogor, Dedy Roamer Ps kritikus dan dosen juga puluhan seniman budayawan, praktisi, dan lain-lain.(as)